Ekonomi

Tapley Seaton Akan Promosikan Batik Indonesia dan Ajak Waspadai Perubahan Iklim

BTN iklan

Jakarta, Lei, 26/5 – Indonesia sebagai negara demokrasi besar di dunia dan memiliki salah satu warisan seni budaya yaitu batik yang ragamnya cukup banyak, bahkan dunia banyak yang ikut mengagumi. “Kami cukup mengaguminya, karena itu bukan hanya akan mendatangkan ahli batik dari Indonesia, tetapi juga meningkatkan impor tekstil jenis batik guna membantu memperluas promosi batik dari Indonesia, ” kata Gubernur Jenderal Federasi Saint Christopher (St. Kitts) dan Nevis, Y.M. Sir Samuel Weymouth Tapley Seaton, melalui Siaran pers dari KBRI Kolombia, pada Jumat.

Tapley Seaton menyampaikan hal itu saat menerima surat-surat kepercayaan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI Priyo Iswanto untuk Federasi St. Kitts dan Nevis di Government House, Basseterre, St. Kitts.
Tapley lebih jauh menyebutkan, pihaknya menghargai tawaran duta besar Indonesia agar ada nota kesepahaman (MoU) sebagai pijakan meningkatkan hubungan dagang dan invesstasi khususnya produk kendasraan bermotor dan kain jenis batik yang ragamnya cukup banyak dan bermutu.

“Kami akan menindak lanjuti tawaran kerjasama yang dituangkan dalam draf MoU, karena perdagangan Kitts dan Nevis dengan Indonesia khususnya jenis kendaraan bermotor trennya naik,” katanya.
Priyo yang didampingi oleh Pejabat KBRI Bogota, Achmad Djatmiko, juga menambhakan, dalam rangka peningkatan kerja sama ekonomi, dan kebudayaan pihaknya telah mendatangkan ahli batik dari Indonesia guna mengajari para seni batik dari negara itu. “Kita akan buka workshop bebera hari agar ada pemahaman soal batik dan ragamnya dari Indonesia,” katanya.

Dubes juga menyampaikan, selain itu pihaknya juga melakukan pertemuan dengan Presiden Kamar Dagang dan Industri St. Kitts dan Nevis, Mr. Jose Rosa, di kantor KADIN St. Kitts dan Nevis, Basseterre.
Pada pertemuan itu kami mengundang para pengusaha St. Kitts dan Nevis untuk menjajaki peluang bisnis dengan Indonesia dengan menghadiri pameran Trade Expo Indonesia, bulan Oktober 2017. Bahkan pejabat Kitts, juga sepakat perlunya ada Memorandum of Understanding antar KADIN kedua negara untuk meningkatkan kontak bisnis antara Indonesia dan St. Kitts dan Nevis, kata Priyo.
Dikatakan, hubungan diplomatik Indonesia – St. Kitts dan Nevis dimulai secara resmi pada tanggal 30 Januari tahun 2014 dengan ditandatanganinya Komunike Bersama Pembukaan Hubungan Diplomatik di New York, Amerika Serikat.

Terkait itu, mengutip data BPS RI mencatat total perdagangan kedua negara mencapai USD 966 ribu pada tahun 2016, yang didominasi oleh ekspor Indonesia. Trend perdagangan kedua negara mengalami peningkatan yang cukup tinggi yakni 34,16% sejak tahun 2012. Produk ekspor Indonesia antara lain, kendaraan bermotor beserta suku cadangnya, mebel dan produk furnitur lainnya, busana wanita dan aksesoris pakaian lainnya.
Peluang produk Indonesia yang dapat dipasarkan di St. Kitts dan Nevis antara lain: investasi industri perhotelan dan pariwisata, industri spa dan perawatan tubuh, mebel dan perabotan untuk perhotelan dan rumah tinggal, pesawat terbang sebagai moda transportasi jarak pendek antar pulau, dan busana batik pantai yang cocok dengan iklim tropis di kawasan Karibia.

Diakhir penutupannya, Priyo mengatakan, Indonesia memandang penting St. Kitts dan Nevis. Untuk itu ia akan terus berupaya mendekatkan kedua bangsa melalui interaksi people to people contactyang dapat dikembangkan melalui kerjasama ekonomi, seni dan budaya, seperti pelatihan seni membatik.

Perubahan iklim

Secara terpisah, Dubes RI Bogota melakukan kunjungan kehormatan kepada Menteri Luar Negeri St. Kitts dan Nevis, Y.M. Mark Brantley, di Government Headquarters, Basseterre, St. Kitts. Kedua pihak membahas potensi dan peluang kerja sama antara kedua negara, salah satunya di bidang perubahan iklim, people to people contact, kerja sama antar kamar dagang dan industri kedua negara, pendidikan dan pelatihan, serta kerja sama di fora internasional.

“Perubahan iklim merupakan existential threat dan dipandang secara serius bukan hanya bagi St. Kitts dan Nevis, tetapi juga bagi hampir seluruh negara di kawasan Karibia,” kata Menlu Brantley terkait salah satu isu kerja sama bilateral Indonesia-St. Kitts dan Nevis yang dapat dijalankan.
Terkait hubungan bilateral, kata Priyo, Brantley “mengapresiasi respon cepat Pemerintah RI atas permohonan pelatihan batik oleh Pemerintah St. Kitts dan Nevis, hal ini merupakan indikasi terhadap kualitas hubungan kedua negara yang sangat baik.”

Selain itu, Dubes RI Bogota menyampaikan bahwa salah satu area peningkatan hubungan bilateral adalah pertukaran beasiswa dan cendekiawan sebagai bagian dari penguatan people to people contact. “Masyarakat kedua negara memiliki advantage dari penggunaan bahasa Inggris karena masyarakat St. Kitts dan Nevis adalah penutur asli bahasa Inggris yang merupakan bahasa asing utama di Indonesia,” kata Duta Besar Priyo Iswanto.
Dewa

Perlihatkan Lebih

2.742 Comments