Liputan

Targer IPO Dipangkas

BTN iklan

JAKARTA — Otoritas bursa dinilai harus segera merealisasikan insentif untuk perusahaan yang berminat IPO tahun ini. Pasalnya, sampai dengan awal September hanya 10 emiten baru yang melantai dari target 35 perusahaan.

PT Bursa Efek Indonesia pun tengah mempertimbangkan memangkas jumlah emiten dari target awal 35 perusahaan menjadi 25 perusahaan.

Sepinya peminat initial public offering (IPO) bertolak belakang dengan perusahaan yang menggelar penawaran umum terbatas atau rights issue. Se panjang tahun ini, jumlah emiten yang menggelar rights issue sudah mencapai 16 perusahaan hingga pekan ketiga Agustus de ngan nilai yang dihimpun Rp38,96 tri liun.

Tahun lalu, jumlah perusahaan yang menggelar rights issue sebanyak 19 emiten dengan dana yang dihimpun Rp42,25 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat mengakui target yang realistis tahun ini adalah se banyak 25 emiten baru. Saat ini terdapat enam perusahaan yang tengah menanti izin efektif IPO dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Ada dua perusahaan lagi yang sedang menunggu izin praefektif dari OJK. Kalau mencapai target awal 35 memang agak berat karena tambahan yang akan IPO tidak terlalu banyak,” katanya, Senin (5/9/2016).

Menurutnya, ada sejumlah perusaha an yang mengajukan dokumen untuk menggelar IPO dan siap melakukan mini expose. Salah satunya yakni PT Prodia Widyahusada.

Penyedia jasa laboratorium klinik ini akan mengadakan mini expose pada Selasa (6/9/2016).

Menilik website resminya, Prodia memiliki jaringan 99 cabang yang tersebar di 73 kota di 25 propinsi dan melayani sekitar 48.000 pelanggan per tahun.

Selain itu, ada satu perusahaan yang kembali mencatatkan diri (relisting) di BEI, yaitu PT Indo Komoditi Korpora. Perusahaan tersebut memiliki anak usaha yang bergerak di bidang perdagangan dan pengelolaan karet di Kalimantan. Indo Korpora menggunakan laporan keuangan per Juni 2016 sebagai dasar valuasi.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengisyaratkan akan merevisi target jumlah emiten baru tahun ini kendati jumlah persisnya belum terinci.

Tito juga pernah menyampaikan akan menihilkan biaya pencatatan saham perdana (listing) hingga 31 Maret 2017 atau bertepatan dengan periode berakhirnya program pengampunan pajak (tax amnesty).

Aturan mengenai bebas biaya pencatatan saham sejauh ini masih disiapkan dan di harapkan menjadi insentif tambahan bagi perusahaan yang berminat menggelar IPO.

INSENTIF

Ekonom Prasetya Mulya School of Business and Economic Lukas Setia Atmadja menuturkan kondisi pasar saat ini memang sedang bagus. Namun, perusahaan yang mau IPO tentu butuh proses yang tidak bisa cepat saat kondisi market tengah baik.

Menurutnya, otoritas pasar modal harus memberikan insentif kepada calon perusahaan publik. BEI diharapkan dapat memperbesar insentif ketimbang disinsentif yang dapat diperoleh calon emiten bila menggelar IPO.

Jeffrosenberg Tan, Associate Director Sinarmas Sekuritas, pesimistis target baru BEI sebanyak 25 emiten baru tercapai tahun ini.

Prediksinya, maksimal hanya 18 emiten baru pada 2016.

“Selama semester pertama pasar kurang bagus, maka yang listing hanya sedikit. Sisa tiga bulan ini tidak mungkin terkejar 25 emiten baru,” katanya, Senin (5/9/2016).

Menurut Jeff, sebenarnya saat ini merupakan waktu yang tepat bagi korporasi untuk IPO saham. Sebab, animo pasar untuk transaksi saham tengah besar yang ditandai dengan masih menguatnya IHSG.

Sentimen positif yang mendukung pasar yakni amnesti pajak. Laksono Widodo, Direktur Capital Market PT Mandiri Sekuritas, tidak berharap terlampau banyak terhadap aksi korporasi pencatatan perdana.

“Angka target IPO sulit dicapai, kami tidak akan melakukan revisi target IPO. Secara umum, tahun ini masih banyak yang akan IPO pada kondisi bullish,” katanya saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia.

Mansek menangani IPO tiga perusahaan senilai Rp5 triliun. Tiga perusahaan yang menggunakan laporan keuangan Juni 2016 dan September 2016 itu bakal melantai awal 2017.

Valuasi ketiga perusahaan itu masing-masing antara Rp1,5 triliun—Rp2 triliun. Meski tidak bersedia me nyebut perusa haan maupun sektor yang ba kal IPO, dia memastikan calon emiten itu bu kan anak usaha BUMN.(bisnis.com)

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close