InternasionalLiputan

Tekanan AS Kepada Korsel Diprediksi Mereda

BTN iklan

SEOUL/Lei—Tekanan AS kepada Korea Selatan diprediksi akan mereda, pasalnya surplus perdagangan Seoul kepada Washington berhasil turun pada April.

Kementerian Perdagangan Korea Selatan menyebutkan, ekspor negara tersebut naik 24,2% atau mencapai US$51 miliar pada bulan lalu secara year on year (yoy). Kenaikan tersebut didukung oleh permintaan pada produk komponen elektronik.

“Kenaikan ini didukung oleh pulihnya perdagangan global dan turunnya harga komoditas. Kami berharap kondisi ini akan berlanjut pada Mei,” kata Chae Hee-bong, Menteri Perdagangan, Industri dan Energi Korea Selatan, seperti dikutip dari Reuters, Senin (1/5/2017).

Capaian tersebut menjadi rekor tersendiri bagi Korea Selatan. Pasalnya, perolehan bulan lalu tersebut memperpanjang kenaikan selama empat bulan berturut-turut. Kenaikan pada April itu juga melanjutkan tren kenaikan ekspor hingga dua digit yang telah berjalan selama tiga bulan sebelumnya.

Adapun, dari sisi impor, negara ini juga mencatatkan kenaikan sebesar 16,6% atau mencapai US$37,8 miliar secara yoy. Hal itu membuat neraca perdagangan mencatatkan surplus sebesar US$13,25 miliar pada bulan lalu.

Di sisi lain, ekspor ke AS meningat pada bulan lalu, yakni naik 3,5% secara yoy atau rebound dari Maret yang mencatatkan penurunan 5,0%. Namun, kenaikan itu tak dibarengi oleh surplus perdagangan Negeri Ginseng kepada Paman Sam.

Surplus Seoul kepada Washington bulan lalu hanya mencapai US$1,68 miliar atau turun dari periode yang sama tahun lalu, yakni US$2,52 miliar. Mesin, produk minyak dan peralatan rumah tangga menjadi pendorong utama ekspor ke AS bulan lalu.

Sejumlah ekonom menilai, kondisi itu membuat kekhawatiran pada pengenaan kebijakan proteksi perdagangan dari AS kepada Korea Selatan mereda. Terlebih apabila pada bulan-bulan selanjutnya negara tersebut kembali berhasil menekan surplusnya kepada AS.

“Jika tren ini berlanjut, Korea Selatan kemungkinan akan lolos dari salah satu kriteria penentuan manipulasi mata uang,” kata An Ki-tae, seorang ekonom di NH Investment & Securities.

Seperti diketahui, Pemerintah Korea Selatan saat ini sedang dalam proses mengurangi surplus perdagangannya dengan Amerika Serikat. Upaya itu dikonfirmasi oleh Menteri Keuangan Yoo Il-ho mengatakan pada Minggu (30/5/2017).

Hal itu tak lepas dari rencana Pemerintah AS yang ingin meninjau dan mereformasi ulang perjanjian perdagangan bebas lima tahunan dengan Korea Selatan. Pasalnya, perjanjian itu telah membuat defisit perdagangan AS dengan Korsel meningkat pesat.

Rencana itu ditegaskan oleh Wakil Presiden AS Mike Pence saat berkunjung ke Seoul bulan lalu. Dia mengatakan, pascaperjanjian dagang bebas kedua negara tersebut diberlakukan lima tahun lalu, defisit dagang AS kepada Korsel melejit hingga dua kali lipat.

Seperti diketahui, Negeri Paman Sam di bawah kendali Trump terus berusaha melakukan peninjauan ulang dan revisi kerjasama dagang dengan sejumlah mitra dagang utama yang menyebabkan AS mengalami defisit perdagangan.

Pada Februari, Trump bahkan telah memerintahkan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross untuk melakukan kajian mendalam terkait mitra dagang yang mengalami surplus dengan AS. Hal itu dinilai sejumlah kalangan sebagai bentuk realisasi janjinya selama masa kampanye.

Seperti diketahui, Korea Selatan menjadi salah satu negara yang akan menjadi fokus kajian Ross. Negara lainnya adalah China, Jepang, Kanada, Indonesia, Malaysia, India, Thailand, Prancis, Jerman, Meksiko, Irlandia, Vietnam, Italia dan Swiss.

Sumber : Reuters/Bloomberg

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami