BTN iklan
Internasional

Telepon Operator Ambulans, Wanita Sakit Parah Diejek dan Meninggal

Paris (LEI) – Seorang operator ambulans berkilah bahwa kondisi kerjanya terlalu buruk dan penuh tekanan sehingga tidak bisa disalahkan atas kematian seorang ibu muda yang dia ejek saatmenelponnya untuk minta bantuan darurat.

Dalam peristiwa itu, Naomi Musenga, 22, menelpon layanan ambulans Strasbourg, Prancis, karena menderita sakit perut yang sangat parah. Naomi berkata: “Saya akan mati,” dengan suara lemah.

Namun operator malah mengejeknya dengan mengatakan, “Anda pasti akan mati suatu hari nanti, seperti yang lainnya juga.”

Operator yang namanya tetap dirahasiakan itu mengatakan kepada stasiun TV Prancis bahwa dia berada di bawah tekanan dan menjalani beban kerja berlebihan di layanan darurat itu.

Ditanya apakah dia menyesali apa yang dikatakannya kepada pasien yang kemudian meninggal itu, dia menjawab: “Dalam keadaan itu … ya bisa dikatakan kata-kata saya itu tidak pantas.”

“Kami terus-menerus bekerja dalam ketegangan … Saya bisa dua atau tiga jam terus melayani telepon, tidak punya waktu untuk bangun. Begitu banyak (panggilan telepon) dari mana-mana,” katanya.

Jadi, katanya “kami menutup telepon dan kami memilih (yang dianggap tepat).”

Dia mengatakan banyak rekannya di layanan darurat medis mendapat ancaman sejak berita kematian Musenga muncul.

Naomi Musenga's, Louange, her father, Mukole, and her mother, Honorine, speak to journalists on 10 May 2018 in StrasbourgKeluarga Naomi Musenga memahami kondisi kerja operator layanan darurat. (AFP)

Keluarga Musenga sendiri menolak menyalahkan operator itu, dan mengakui kondisi kerja di sana begitu buruk, lapor BFMTV Perancis.

Pengacara operator itu mengatakan kepada BFMTV pekan lalu bahwa dia kliennya menerima sekitar 2.000 panggilan telepon per hari.

“Ketika … Anda mendengar: ‘Saya sakit perut’ … memang benar bahwa refleks pertama adalah menganggapnya bukan sebagai situasi darurat mutlak, dan orang itu lebih baik pergi ke dokter saja,” kata pengacara itu.

Menurut kepala asosiasi dokter darurat Prancis, jumlah ambulans darurat melonjak dari delapan juta pada 1988 menjadi 21 juta sekarang, sementara jumlah panggilan darurat meningkat tiga kali lipat.

Rumah sakit Strasbourg mengatakan bahwa pada hari itu, sang operator baru saja kembali dari cuti selama dua pekan dan mulai masuk pukul 07.30 hari itu. Lalu Naomi Musenga menelepon darurat empat jam kemudian, pada pukul 11:30.

Dalam pembicaraan tiga menit itu, Musenga – dengan suara yang sangat lemah – meminta bantuan dan mengalami kesulitan untuk menggambarkan rasa sakitnya saat berbicara dengan petugas layanan ambulans.

Operator itu, terdengar kesal, menjawab: “Jika Anda tidak memberi tahu apa yang terjadi, saya akan menutup telepon ini!”

Operator itu akhirnya memanggil SOS Medecins, yang mengirim dokter, bukan ambulans, dan, setelah menunggu selama lima jam, Musenga dibawa ke rumah sakit dengan layanan ambulans.

Naomi Musenga mengalami stroke di rumah sakit dan dipindahkan ke unit perawatan intensif, tetapi kemudian meninggal karena kegagalan berbagai organ tubuh.

Kasus ini terjadi bulan Desember 2017 lalu, tetapi baru terungkap ketika rekaman percakapan telepon darurat yang diperoleh oleh keluarga korban, diterbitkan oleh situs web setempat.

Operator yang telah bekerja untuk layanan darurat Samu selama empat tahun dan berdinas sebagai pekerja ambulans selama 20 tahun, telah diskors. Menurut surat kabar Le Parisien, pihak berwenang telah membuka penyelidikan pidana. (detik)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close