Hukum

Telkomsel Menangi Sengketa

BTN iklan

JAKARTA/Lei — PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) bisa bernapas lega setelah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidak dapat menerima gugatan yang dilayangkan PT Sarana Cipta Intinusa dengan tuntutan ganti rugi Rp1,02 triliun.

Ketua majelis hakim I Ketut Tirta menyatakan surat kuasa penggugat dalam perkara ini tidak sah sesuai substansinya. Surat kuasa penggugat tersebut tidak memenuhi syarat formal surat kuasa hukum khusus sebagaimana diatur Mahkamah Agung.

“Mengadili, surat kuasa dari penggugat tidak sah dan eksepsi para tergugat diterima,” katanya saat sidang putusan,

Dalam perkara perbuatan melawan hukum ini, Telkomsel menjadi tergugat I, mantan karyawan Telkomsel Sylvina Wulandari sebagai tergugat II, Okki Subagio sebagai tergugat III, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. selaku tergugat IV dan Singapore Telecom Mobile Pte Ltd sebagai tergugat V.

PT Sarana Cipta Intinusa (SCI) sendiri menuduh Telkomsel tidak membayar kewajiban kepada penggugat, sehingga menyebabkan kerugian materiil Rp20 miliar dan kerugian immaterial Rp1 triliun.

Kuasa hukum PT Telekomunikasi Selular Ignatius Andy menghargai putusan majelis  hakim. Menurutnya, putusan yang menyebut surat kuasa penggugat tidak sah sudah benar. Pasalnya, majelis hakim merujuk pada Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 6 tahun 1994 tentang syarat formal surat kuasa khusus.

“Dengan begini, dari awal, gugatan yang dilayangkan kepada Telkomsel itu tidak benar,” ujarnya.

Dia menambahkan kliennya tidak memiliki hubungan hukum dengan PT  Sarana Cipta Intinusa. Gugatan kerugian dalam petitum penggugat juga tidak bisa diterima dan terlalu mengada-ada.

Dalam eksepsinya, Telkomsel menyebutkan seluruh dokumen yang diajukan oleh penggugat untuk menagih kepada operator seluler itu adalah dokumen yang tidak sah. Dokumen pengerjaan proyek itu tidak ditandatangani oleh pihak berwenang Telkomsel dan atau ditandatangani tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari Telkomsel.

Di samping itu, pengadilan telah menyatakan bahwa dokumen-dokumen yang digunakan oleh penggugat tersebut palsu, sesuai dengan putusan perkara pidana No. 249/Pid.B/2016/PN.Jkt.Sel.

Putusan perkara pidana itu juga menjatuhkan hukuman penjara dua tahun enam bulan kepada Sylvina Wulandari. Mantan karyawan Telkomsel itu didakwa melakukan penipuan berupa pemalsuan dokumen.

TIDAK TERIMA

Sementara itu, kuasa hukum PT Sarana Cipta Intinusa Rahmawati menyatakan tidak terima dengan putusan hakim. Alasannya, majelis hakim terlalu sepele dan remeh untuk membatalkan gugatan penggugat. Selain itu, dasar hakim menggunakan rujukan SE Mahkamah Agung juga kurang tepat.

Sementara itu, dasar hukum yang dipakai penggugat dalam surat kuasa itu adalah Kitab Undang-undang Hukum (KUH) Perdata. Dia mengklaim secara hierarki, hukum perdata tersebut lebih tinggi ketimbang SEMA.

“Mengadili hanya lewat materi dan bukan pokok perkara itu enggak fair. Kami akan melakukan upaya hukum lanjutan, antara mengajukan banding atau mengajukan gugatan baru,” katanya usai sidang.

Perkara dengan Nomor 405/Pdt.G/2015/PN. Jkt. Sel bermula ketika PT SCI  membuat berita serah terima pekerjaan kepada Telkomsel. Namun, Telkomsel menyatakan tidak pernah memperoleh manfaat pekerjaan maupun barang yang diberikan oleh penggugat dan  tidak pernah menjadikan penggugat sebagai vendor.

Setelah ditelisik, sejumlah transaksi dalam gugatan penggugat telah diatur oleh salah satu oknum karyawan Telkomsel, Sylvina Wulandari, yang telah dirumahkan oleh Telkomsel.

Sylivina telah melakukan berbagai macam hal, yaitu mengadakan pertemuan termasuk pemalsuan surat dokumen dan tandatangan atasan. Sylvina mengatur sejumlah transaksi berantai yang melibatkan perputaran uang sebesar Rp60,25 miliar di lima perusahaan.

Selain perkara 405, Telkomsel juga menang dalam perkara 400/Pdt.G/2015/PN.Jkt.Sel untuk kasus serupa melawan Thomas Iskandar. Dalam kasus ini nilai tuntutan Thomas mencapai Rp1,05 triliun.(bisnis.com)

Perlihatkan Lebih

53 Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami