BTN iklan
Internasional

Teman Meninggal, Puluhan Tahanan Asing di Jepang Mogok Makan

TOKYO (LEI) – Puluhan tahanan asing yang mendekam di tahanan sementara imigrasi Jepang di Tokyo melakukan aksi mogok makan. Hal itu dilakukan setelah seorang tahanan meninggal dunia. Pria asal India itu ditemukan tewas tergantung di kamar mandi tahanan pada Jumat 13 April malam waktu setempat.

Korban diduga mengalami depresi karena otoritas Jepang terlalu lama mengambil keputusan mengenai status imigrasinya. Sebagai informasi, Negeri Sakura memang memiliki undang-undang yang ketat terkait imigrasi dan hanya menerima sedikit pencari suaka.

“Kami menduga para tahanan asing itu menolak makan agar dapat dibebaskan,” ujar petugas di pusat tahanan imigrasi, Daisuke Akinaga, melansir dari BBC, Selasa (17/4/2018).

Para pejabat di pusat detensi itu tidak memberi tahu secara rinci berapa jumlah tahanan yang mogok makan atau asal kewarganegaraan mereka. Namun, harian Jepang, Kyodo, memberitakan lebih dari 40 orang melakukan mogok makan.

(Salah satu pusat detensi imigrasi di Jepang. Foto: Yuya Shino/Reuters)

Otoritas Jepang menerangkan, sekira 330 orang saat ini ditahan di pusat detensi imigrasi di Ibaraki tersebut. Kematian pria asal India itu merupakan yang ke-14 kalinya yang terjadi di pusat detensi imigrasi tersebut sejak 2006.

Salah satu tahanan, Majid Seyed Nejat, mengaku melakukan aksi mogok makan bersama dengan 19 orang lainnya yang berada satu blok dengan korban. Pria asal Iran itu mengaku ingin tahu seperti apa bentuk tanggung jawab yang dijanjikan oleh pejabat pusat detensi imigrasi.

Aktivis bernama Mitsuru Miyasako mengatakan, aksi mogok makan telah menyebar ke lima blok berbeda. Jumlah peserta aksi tersebut diperkirakan dapat mencapai 100 orang. Menurut pengakuannya, para tahanan pada Maret lalu sudah mengajukan petisi untuk mengakhiri waktu penahanan yang dinilai terlalu lama, tetapi tidak digubris oleh otoritas.

Kebijakan ketat Jepang tersebut mendapat protes keras tidak hanya dari aktivis tetapi juga PBB. Sebagai informasi, seorang pencari suaka rata-rata harus menunggu selama tiga tahun untuk keputusan mengenai status imigrasi mereka.

Pada 2017, sekira 100 orang tahanan di pusat detensi imigrasi di seluruh Jepang melakukan mogok makan untuk memprotes kebijakan Jepang. Hingga Jumat 13 April, sedikitnya 1.317 orang ditahan di 17 pusat detensi imigrasi berbeda di seantero Negeri Matahari Terbit. (okezone)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close