EntertainmentLifestyle

Terinspirasi Awkarin, Gita Savitri Jajal Jadi Seleb Medsos

BTN iklan

Jakarta (LEI) – Nama Gita Savitri pada dua tahun belakangan turut mengisi jajaran selebritas di media sosial. Sebelum konsisten membuat konten sendiri, gadis 25 tahun itu mengaku semula gelisah banyak video dari Indonesia dengan pesan kurang posifif di YouTube.

Pada saat bersamaan ia ingin melakukan kegiatan di luar perkuliahannya dengan menjajal video blog tentang kehidupannya di Berlin, Jerman. Gita menilai kala itu tak banyak orang Indonesia yang berada di luar negeri dan mengunggah video ke YouTube.

Secara terbuka ketika berkorespondensi, Gita mengatakan bahwa ia juga terinspirasi dari sosok Awkarin yang pada saat itu menjadi kontroversi akibat videonya yang dinilai terlalu ‘hedon’.

“Saya berpikir, ikutan protes atau marah-marah tidak akan membawa perubahan. Pada akhirnya, hak dia untuk menentukan konten apa yang dia mau. Lebih baik saya bikin kanal YouTube sendiri supaya bisa membuat video yang saya mau dan menurut saya layak ditonton,” ungkap Gita.

Berbekal hal itu, Gita mendapat respons yang cukup baik walau butuh waktu dua pekan untuk mendapatkan seribu kali ditonton, tapi setelah itu ia mengatakan bahwa peningkatan jumlah views dan subscribers cukup cepat.

Gita mengakui mendapatkan pelanggan sebanyak 100 ribu kurang dari setahun. Dan popularitasnya semakin menanjak kala banyak orang membicarakan dirinya dan konten yang ia buat di media sosial, seperti Instagram.

Gita merasa banyak pesan yang bisa ia sampaikan dari kehidupannya sebagai wanita Muslim asal Indonesia yang sekolah di luar negeri. Ia ingin memberi motivasi kepada anak muda untuk rajin kuliah dan beradaptasi dengan kehidupan di luar Indonesia.

Namun niat Gita tak selamanya berbuah manis. Selama dua tahun terakhir aktif membuat konten di YouTube dan Instagram, ada sisi pahit dari status ‘influencer‘ yang ia sandang. Belum lagi ada anggapan miring soal dirinya yang mahasiswi Kimia namun ‘bekerja’ sebagai seleb medsos.

“Saya jadi kehilangan ruang privat karena ada beberapa followers yang merasa berhak untuk ingin tahu kehidupan pribadi saya. Waktu luang bersama keluarga dan sahabat pun jadi berkurang,” katanya.

“Saya adalah lulusan Kimia murni, sementara pekerjaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kimia. Tapi satu yang saya pelajari, pekerjaan tidak melulu harus sesuai dengan jurusan kuliah. Asalkan banyak manfaatnya untuk diri sendiri dan orang sekitar, kenapa tidak?” lanjutnya.

“Saya jadi bisa mengenal diri saya lebih dalam, mencari tahu tujuan hidup saya, bertemu dengan orang-orang yang membantu saya mendapatkan sudut pandang baru dalam segala masalah dan itu semua sangat esensial untuk peningkatan kualitas diri saya. Ditambah lagi saya bisa membantu banyak orang dan melakukan hal-hal positif untuk orang lain,” kata Gita.

View Bukan Segalanya

Walau terbilang ‘anak kemarin sore’ di dunia media sosial, Gita mengakui bahwa tantangannya dalam mewujudkan cita-cita memberikan konten positif adalah minat netizen.

“Dari hasil pengamatan saya, manusia memang naturalnya lebih suka melihat berita buruk atau pun sisi buruk dari apa pun itu. Entah suatu kejadian ataupun seseorang. Saya tidak belajar psikologi, jadi saya tidak bisa menjelaskan bagaimana teorinya,” kata Gita.

Dia menambahkan, fenomena seperti itu tak jarang dimanfaatkan sebagian orang untuk menarik perhatian. Dia mengambil contoh di era digital ini bahwa ‘sensasi’ menjadi penarik untuk mendapat traffic-nya yang bagus.

“Mungkin buat sebagian orang, jumlah views adalah segalanya. Maka mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan itu. Tapi menurut saya hal itu enggak memberikan efek bagus ke pengguna internet,” kata Gita.

“Kesannya internet itu adalah tempat yang suram yang hanya diisi oleh berita bohong, konten tidak mendidik, berita buruk. Padahal ada banyak sekali hal baik yang bisa diangkat,” lanjutnya.

“Di Indonesia, bahkan di dunia, YouTube adalah platform video terbesar. Malah sekarang sudah banyak orang yang meninggalkan TV karena lebih tertarik menonton video di YouTube. Maka dari itu, idealnya seorang influencer harus aware terhadap pengaruh yang bisa mereka berikan kepada para netizen,” kata Gita Savitri.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close