BTN iklan
Internasional

Terkait Rohingya, Museum AS Cabut Penghargaan bagi Suu Kyi

WASHINGTON (LEI) – Museum Peringatan Tragedi Holocaust (pembantaian terhadap Yahudi) Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk mencabut penghargaan kepada tokoh asal Myanmar, Aung San Suu Kyi. Penghargaan itu dicabut karena Suu Kyi dinilai gagal mengecam serta menghentikan agresi militer terhadap etnis minoritas Rohingya.

“Dengan sangat menyesal kami akan mencabut penghargaan itu. Kami tidak mengambil keputusan ini dengan mudah,” bunyi pernyataan resmi pihak museum, mengutip dari Reuters, Kamis (8/3/2018).

Museum yang berbasis di Washington itu memberikan penghargaan Elie Wiesel kepada Aung San Suu Kyi. Wiesel adalah seorang penyintas tragedi pembantaian Yahudi oleh Nazi Jerman. Pencabutan itu dilakukan sebagai konsekuensi bungkamnya perempuan berjuluk ‘The Lady’ itu atas kekejaman terhadap Rohingya.

Suu Kyi dan Partai Liga Nasional Demokratik (NLD) menolak bekerja sama dengan penyidik PBB untuk kasus Rohingya. Museum Holocaust menyatakan, pemerintah Myanmar menolak akses terhadap pelapor ke area-area di mana dugaan penyiksaan terjadi.

Kekerasan terhadap etnis Rohingya yang dilakukan oleh militer Myanmar memicu kecaman dari berbagai belahan dunia. Selain itu, muncul juga berbagai desakan agar Hadiah Nobel Perdamaian yang diraih Aung San Suu Kyi pada 1991 dicabut karena tidak sesuai dengan sikap perempuan itu saat ini.

Hadiah Nobel diberikan kepada Aung San Suu Kyi karena dinilai berjasa memperjuangkan demokrasi selama puluhan tahun di Myanmar yang dikuasai oleh junta militer. Akan tetapi, putri pahlawan nasional Jenderal Aung San itu justru diam seribu bahasa melihat kekerasan yang dilakukan terhadap Rohingya.

Aung San Suu Kyi saat ini memegang dua jabatan penting di Myanmar, sebagai Menteri Luar Negeri dan State Counselor atau Penasihat Negara. Ia tidak bisa memegang jabatan tertinggi, yakni presiden, karena peraturan yang dikeluarkan oleh junta militer. Meski demikian, Suu Kyi tetap dianggap sebagai pemimpin de facto di Myanmar.

Jasanya selama memperjuangkan demokrasi di Myanmar berbuah berbagai macam penghargaan dari dunia internasional, termasuk sebagai warga kehormatan Kota Dublin, Irlandia, dan Oxford, Inggris. Pada Februari, tiga orang nominator Nobel Perdamaian mendesak agar Suu Kyi dan militer Myanmar segera mengakhiri ‘genosida’ terhadap Rohingya atau harus menghadapi proses hukum. (OKEZONE)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close