Kesehatan

Ternyata Campak Masih Jadi ‘Momok’ di Daerah Papua

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) –  Campak masih menjadi momok di Kabupaten Asmat, Papua. Tapi pemerintah tidak tinggal diam, sudah ada upaya yang dilakukan untuk pencegahan agar penyakit ini tidak meluas.

Laporan wabah campak sebenarnya sudah ada sejak September 2017. Pada saat itu, pemerintah berusaha menuntaskan maslaah ini, namun terkendala dengan aksesnya. Hal ini dikatakan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI dr Jane Elizabeth Soepardi, MPH, DSc. Dia menyebutkan, laporan cakupan imunisasi di tahun 2017 belum terdata secara lengkap.

“Catatan tim betul memang ada KLB di bulan September 2017 dari berbagai desa di Papua,” kata Jane, saat dihubungi Okezone, Senin (15/1/2018).

Pemerintah telah berupaya menyalurkan bantuan tenaga medis yang terdiri dari 10 dokter untuk ditugaskan di beberapa puskesmas di sekitar Kabupaten Asmat. Karena di sana minim tenaga kesehatan, seperti dokter dan perawat.

“Semua kita bersekan, yang kurang akan kita cari datanya,” tambah dr Jane.

Saat ini, dr Jane mengungkap, ada 21 kecamatan di Kabupaten Asmat yang sulit dijangkau dengan moda transportasi. Hal ini membuat pemerintah kesulitan menuntaskan wabah campak yang mengkhawatirkan. Campak salah satu penyakit yang membuat pasiennya mengalami ruam parah. Tak hanya ruam, pasien juga mengalami demam, nyeri otot, batuk, pilek, serta gejala khas yang lainnya.

Senenarnya, pemerintah telah melaksanakan program imunisasi Measles Rubella (MR), namun baru dipusatkan di Pulau Jawa. Perluasan program imunisasi ini memang diadakan kembali oleh pemerintah, namun yang disasar yakni di luar Pulau Jawa. dr Jane mengimbau kepada seluruh masyarakat bahwa vaksin MR salah satu program wajib pemerintah yang harus diikuti.

Penyakit campak biasanya dialami anak-anak, namun penyakit ini sering muncul di era 1990-an. Namun semakin bertambah tahun, penyakit menular seperti itu muncul kembali. “Sekarang karena media sosial jadi banyak penyakit-penyakit langka dan menular jadi terungkap,” tambahnya.

Di samping itu, seharusnya masyarakat melakukan pengulangan vaksin setiap 10 tahun sekali. Apalagi untuk di wilayah Indonesia Timur, seperti Papua, masih banyak penyakit menular yang kini mulai terdeteksi.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami