Nasional

Tiga Jenis Ikan Ekspor Terindikasi Ditangkap Berlebihan

BTN iklan

Jakarta, (Lei) – Tiga jenis ikan karang komoditas ekspor seperti Sunu Halus, Sunu Merah, dan Kerapu Macan terindikasi telah ditangkap berlebihan oleh nelayan, khususnya di perairan Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

“Berdasarkan hasil pendataan kami di kawasan Teluk Saleh, Provinsi Nusa Tenggara Barat selama 2016 sampai 2017 di sejumlah titik, ada tiga spesies ikan kerapu seperti Sunu Halus (Plectropomus areolatus), Sunu Merah (Cephalopolis Miniata), dan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) yang telah ditangkap sebelum hewan itu berhasil memijah (bertelur),” kata Staf Monitoring Program Wildlife Conservation Society (WCS)Indonesia di NTB, Sukmaraharja saat dihubungi via telepon dari Jakarta,, Senin.

Sukma menambahkan, ada enam jenis ikan kerapu dan kakap lainnya, seperti Plectropomus leopardus, P. maculatus, P. oligacanthus, Cephapolis sonnerati, C. albimarginata, dan C. altivelis sudah ditangkap secara optimal.

Sebelumnya, staf WCS Indonesia di Sumbawa Tezar Afandi menjelaskan, pendataan aktivitas penangkapan ikan di Teluk Saleh dilakukan di enam titik, mulai dari Labuhan Sumbawa, Labuhan Kuris, Labuhan Sangoro, Labuhan Jambu, dan Teluk Santong.

“Pengambilan data dilakukan dengan mencatat aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan di sejumlah dusun di pesisir Teluk Saleh, dan sejumlah pengepul ikan. Informasi yang dikumpulkan tidak hanya jumlah, berat, dan ukuran ikan, tetapi juga alat tangkap yang digunakan,” kata Tezar di Sumbawa.

Selama periode 2016-2017, alat tangkap yang digunakan didominasi oleh panah (speargun) yaitu sekitar 89 persen pada kategori ikan yang ditangkap berlebih (overfished), dan 63 persen pada kategori ikan ditangkap optimal (fully exploited).

Alat pancing lain yang banyak digunakan, diantaranya pancing ulur, rawai dasar, dan bubu.

Data yang menjadi bagian dokumen Pengelolaan Perikanan Kerapu dan Kakap Berkelanjutan tersebut akan didiskusikan bersama dalam Konsultasi Publik, mulai 14-15 Agustus di tingkat kabupaten serta desa.

“Dokumen ini merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB, Universitas Mataram, dan WCS Indonesia yang didukung oleh Yayasan lingkungan The Nature Conservacy (TNC) Indonesia. Konsultasi publik diadakan di Kantor DKP Kabupaten Sumbawa dan Kantor Desa Labuhan Kuris,” tambahnya.

Ikan karang di Teluk Saleh, seperti kakap dan kerapu merupakan komoditas ekspor yang banyak dikirim ke Hongkong, Taiwan, dan Jepang. Sejak tahun 90-an, menurut Anwar, seorang pengepul di Labuhan Sumbawa, banyak nelayan telah berburu ikan kerapu, seperti Sunu Halus, atau Sunu Merah, karena harga jual yang cukup tinggi.

“Per kilogramnya, harga ikan Sunu dapat terjual sekitar Rp300 ribu ke eksportir di Denpasar,” kata Anwar, salah satu pengepul yang didampingi WCS Indonesia.

Sementara itu, di tingkatan nelayan, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Ikan Sunu Merah, Amin HS di Dusun Terata Barat mengatakan, ikan kerapu itu dapat terjual di kisaran harga Rp175ribu, tergantung pada jenis dan kondisinya.

Meski demikian, Amin mengatakan, tren jumlah ikan tangkapan nelayan terus menurun tiap tahunnya.

“Di atas 2013, hasil tangkapan biasa melimpah, kami sering menangkap ikan hingga dua kontainer (boks berisi air dan oksigen), yang berat kotornya mencapai 80 kilogram per kotak. Namun, mulai 2013 hingga tahun ini, hasil tangkapan ikan karang nelayan terus menurun, yang biasanya dua kontainer, sekarang hanya satu,” tambahnya saat diwawancarai di rumahnya, Jumat.

Amin menduga, turunnya jumlah ikan disebabkan oleh aksi penangkapan ilegal yang masih banyak dilakukan sejumlah nelayan.

“Masih ada sejumlah nelayan yang menggunakan bom dan potasium saat mengambil ikan karang. Alhasil, sekali operasi, mereka dapat mengumpulkan 200 sampai 300 kilogram ikan, sementara nelayan pancing seperti kami sehari paling hanya 20-30 kg,” tambahnya.

Teluk Saleh yang membentang dari Kabupaten Sumbawa dan Dompu merupakan salah satu kawasan perairan penghasil ikan karang terbesar di NTB. Secara administratif, Teluk Saleh berada di 10 kecamatan, diantaranya Kempo, Labuhan Badas, Lape, Manggalewa, Maronge, Moyo Hilir, Moyo Utara, Pekat, Plampang dan Tarano.

Ada sekitar 67 ribu jiwa, diantaranya termasuk 3.800 nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya di perairan Teluk Saleh.

Demi menjaga kelestarian sumber daya dan ekosistem perairan di Teluk Saleh, WCS sebagai mitra TNC Indonesia bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat berupaya mengadakan pengelolaan ikan berkelanjutan seraya menetapkan sistem zonasi untuk mengendalikan hasil tangkapan. (Antara)

Perlihatkan Lebih

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami