Nasional

Tiga Jenis Manajemen Produk: Mana yang Cocok untuk Perusahaanmu?

BTN iklan

Lei-Apa itu manajemen produk? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, tetapi mungkin grafik di bawah ini dapat menjelaskannya.

Manajemen Produk | Manajemen Produk

Jadi, sebenarnya apa itu Product Manager?

Apabila seseorang bertanya kepadamu, “Dimanakah letak Monas?” apakah kamu akan menjawab, “Lokasinya berada di antara Galeri Nasional, Museum Nasional, dan Istana Merdeka”?

Informasi semacam ini mungkin dapat memberikan arahan, tetapi sifatnya masih belum lengkap. Jadi, sebenarnya apakah yang dilakukan oleh seorang Product Manager?

Jangan khawatir, tidak ada yang mengetahui secara pasti jawabannya

Di Google, pertanyaan di atas seakan-akan menjadi sebuah lelucon yang hanya diketahui oleh orang dalam. Biasanya, ketika pertanyaan tersebut dilontarkan pada seorang Product Manager, ia akan menjawab sambil tertawa, “Kami menyelesaikan berbagai hal.”

Ambiguitas dari role yang ada pada manajemen produk juga terjadi di luar Googleplex. Di pekerjaan software pertama saya di Partners HealthCare, Boston, kami para developer juga terkadang bersenda gurau satu sama lain tentang apa sebenarnya pekerjaan di bagian manajemen produk (yang kadang-kadang mereka sendiri juga tidak mengetahui secara spesifik apa yang kami kerjakan).

“Ambiguitas dari role yang ada pada manajemen produk begitu nyata hingga ke intinya,” tulis Product Manager Dan Schmidt dalam The Product Management Triangle.

Konsultan BCG Yves Morieux berargumen bahwa para manajer yang berada di korporasi modern menghambat produktivitas dengan menggunakan istilah “measurability, accountability, and clarity” secara berlebihan ketika merancang organisasi mereka.

Ia mengklaim bahwa kita telah cukup mampu untuk mengetahui siapa yang harus disalahkan ketika kita gagal, dan akibatnya kita kehilangan kesempatan untuk bekerja sama.

Apakah manajer produk adalah jawaban dari sektor teknologi untuk Yves? Jika begitu, mungkinkah sebuah definisi yang jelas dapat mengeringkan “lem” yang ingin kita rekatkan untuk mengisi jarak antara kedua fungsi?

Tipe dari “lem”

Sebelum kita memikirkan bagaimana cara mengeringkan “lem” tersebut, ada baiknya kita lihat beberapa tipe dari “lem” yang ada.

Dalam dunia nyata, kita memiliki berbagai jenis lem, seperti: lem kertas, lem kayu, lem stik, lem super, dan lain sebagainya. Semua fungsinya sama, yakni untuk merekatkan dua obyek yang terpisah. Tetapi kebutuhan penggunaannya sangatlah berbeda.

Kamu tidak mungkin menggunakan lem kertas untuk membuat sebuah kandang burung, atau menggunakan lem besi untuk membuat kerajinan tangan anak-anak.

Ini berlaku juga untuk manajemen produk. Fungsinya sama, tetapi kebutuhan penggunaannya sangat berbeda.

Jadi, jenis manajemen produk seperti apa yang kita butuhkan?

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat penting, yang akan mengatur tentang:

  • Bagaimana untuk membentuk dan menjaga sebuah tim manajemen produk
  • Tanggung jawab seperti apa yang akan kita percayakan kepada mereka
  • Bagaimana menguji performa mereka
  • Fungsi lain apa yang akan dibutuhkan untuk melengkapi mereka

Pada fase awal startup dibentuk, tanggung jawab dari “product person” (kebanyakan startup baru belum memiliki manajer produk) mungkin akan bergantung sepenuhnya dari sumber daya yang ada pada perusahaan. Sebagai contoh, sebuah tim engineer membutuhkan desain UI, tetapi mereka belum memiliki seorang desainer. Pada akhirnya mereka yang ada di bagian manajemen produklah yang akan membuat desain tersebut.

Bagaimanapun, untuk melakukan upaya scaling pada tim manajemen produk di dalam sebuah organisasi yang sedang berkembang butuh pertimbangan jangka panjang. Manajer harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman sebelum memutuskan.

Kini, pertanyaannya menjadi: Apa fungsi yang dimiliki oleh manajemen produk, ketika tim lain seperti desain, keuangan, dan Business Development telah hadir untuk mengisi jarak antara kedua fungsi?

Dan Schmidt, seorang penulis terkenal di Quora, menyarankan bahwa para manajer produk harusnya mampu untuk merangkai berbagai bagian dalam perusahaan, seperti yang digambarkan pada grafik “Product Network” buatannya di bawah ini:

Manajemen Produk | Product Network

Grafik Product Network. Dikutip dari A Visual Vocabulary for Product Building oleh Dan Schmidt

Masalahnya adalah, tidak semua bagian dapat menempel satu sama lain dengan cara yang sama. Setiap bagian membutuhkan kombinasi yang unik dari kemampuan, gaya bekerja, dan core value (nilai inti). Hanya ada sedikit manajer produk yang dapat memutar kepribadian dengan luwes sehingga mereka mampu mengisi setiap ruang kosong dengan penguasaan yang seragam.

Mari kita melihat model visual berikut sebagai dasar untuk memahami beberapa contoh inklinasi yang umum.


Segitiga #1: The User-First Product Manager — yang mengutamakan pengguna

Manajemen Produk | Mengutamakan Pengguna

User-first product management: Mengerti kebutuhan pengguna serta memuaskan mereka

Kebanyakan manajer produk yang menggunakan pola ini datang dari latar belakang desain, seperti bagian UX, atau dari perusahaan konsultan desain. Metode mereka ini biasanya populer untuk mengarahkan wireframingfocus grouping, dan crowdsourcing.

Berdasarkan pengalaman saya, mereka berusaha untuk memperlihatkan kegemaran mereka terhadap:

  • Kecepatan – Mengapa hal ini sangat lamban?
  • Penggunaan ulang data – Apakah pengguna mau mengisi formulir ini untuk kedua kali?
  • Perbaikan bug – Jangan biarkan pengguna melihat pesan eror itu lagi!
  • Pemahaman – Apakah skala 1 hingga 7 dapat membantu pengguna mengerti hal ini?
  • Permintaan pengguna – Setiap orang yang kami survei menginginkan lebih banyak pengingat email.

Jenis pendekatan ini adalah yang paling masuk akal di ranah permasalahan yang dapat diselesaikan dengan teknologi, serta tidak melupakan bagian untuk inovasi model bisnis.

Manajemen tugas (task management) adalah salah satu contohnya. Contoh lain mungkin ada pada teknologi di bidang edukasi, yang umumnya menggunakan teknologi komputasi sebagai platform untuk penyampaian konten. Contoh terakhir mungkin dapat berupa aplikasi seperti Slack.


Segitiga #2: The Business-First Product Manager — yang mengutamakan bisnis

Manajemen Produk | Mengutamakan Bisnis

Business-first product management: identifikasi sebuah kesempatan, kemudian manfaatkan

Saya pernah menemui beberapa manajer produk yang memiliki kecenderungan seperti ini. Biasanya mereka memiliki latar belakang gelar MBA atau pernah berada di posisi general manager (termasuk menjadi salah satu founder dari startup).

Kamu akan kesulitan untuk menemukan seseorang di antara mereka yang tidak menggunakan spreadsheet, baik ketika membuat analisis cost-benefitatau bagan Gantt.

Mereka ini cenderung untuk mengejar:

  • Profit – kita bisa menambah biaya dua puluh persen lagi untuk fitur baru ini!
  • Fitur kompetitif – Semua kompetitor punya gratis ongkos kirim, kenapa kita tidak?
  • Kesempatan untuk pengembangan bisnis – Kita bisa mengintegrasi seluruh API untuk mendapatkan lebih banyak data!
  • Growth – Mari kita cari cara untuk meningkatkan angka konversi dari homepage.
  • Permintaan investor – Paul Graham ingin berbicara denganmu setelah proses ini berakhir…

Pendekatan semacam ini paling masuk akal untuk diterapkan di ranah yang membutuhkan inovasi model bisnis berdasarkan pengalaman dan teknologi komoditas.

Jika perusahaan telah memenuhi gol mereka — misalnya, pengiriman barang gratis, berkat kerja sama dengan merchant dan produsen — pengguna pasti akan menggunakan aplikasi yang kamu miliki, walaupun aplikasi tersebut masih penuh bug, tidak intuitif, dan tidak menarik. Alasan yang sama ketika mereka rela mengantre panjang di IKEA. Pengguna menginginkan apa yang kamu tawarkan, dan hanya kamu yang dapat menghadirkannya.


Segitiga #3: The Technology-First Product Manager — yang mengutamakan teknologi

Manajemen Produk | Mengutamakan Teknologi

Technology-first product management: Identifikasi sebuah teknologi yang powerful, dan maksimalkan penggunaannya

Jenis manajer produk ini biasanya datang dari latar belakang teknis, seperti lulusan software engineering atau program ilmu komputer. Mereka lebih bergantung kepada prototyping, task management, serta diagram alur.

Para manajer produk yang mengutamakan teknologi ini biasanya cenderung untuk:

  • Menunda peluncuran – Apakah kita akan membiarkan sebuah eror terjadi?
  • Mendaur ulang fitur – Apa kita bisa memakai hashtag di kolom notes ketimbang menambahkan kolom baru untuk label?
  • Meminimalisasi pekerjaan yang tidak perlu – Tidak usah perbaiki bug itu. Kita akan mengganti sistem bulan depan.
  • Ekstensibilitas – Dengan menambahkan fitur ini, kita dapat bekerja dengan kamera dan pemindai di masa depan!
  • Konsisten dengan semantik teknis – Kita tidak bisa menamai kolom ini dengan “sekolah” jika suatu saat akan diisi dengan program pendidikan berbasis peer-to-peer!

Pendekatan ini biasanya bekerja maksimal apabila aspek user experiencedirancang agar tetap simpel serta model bisnis yang digunakan telah terbukti sebelumnya.

Kebanyakan produk Google yang sukses dikembangkan dengan pendekatan seperti ini. Tidak ada antarmuka yang lebih simpel daripada search box milik Google.

Waspada kebutuhan yang akan selalu berubah

Apabila ada satu hal yang dapat kamu pelajari dari The Innovator’s Dilemma, pastinya hal itu adalah dimensi terpenting dari performa yang ada pada sebuah kategori produk, yang lambat laun akan berubah. Sejatinya, kapasitas sebuah hard disk lebih penting dibandingkan ukuran fisiknya — hingga kapasitas tersebut telah maksimal digunakan.

Aturan penting ini berlaku pada kinerja hard disk sama seperti keseimbangan antara ketiga perspektif produk yang telah kita bahas di atas.

Gmail adalah contoh yang menarik, di mana sebuah manajemen produk yang berfokus pada teknologi kini telah mengarah ke produk dengan fitur yang inovatif, antarmuka yang familier, serta menggunakan model bisnis internet tradisional — yang mengembangkan user base serta memonetisasinya di kemudian hari.

Kompetitor seperti iCloud dan Hotmail juga turut serta dalam ranah ini, yang menyebabkan perubahan performa ekonomis dari teknologi ke arah desain, seperti yang telah sukses dilakukan oleh Mailbox (yang kini telah diakuisisi oleh Dropbox).


Apa yang sebaiknya dilakukan oleh seorang manajer produk, dan di mana bisa mencari mereka, sangatlah beragam tergantung kepada strategi yang kamu terapkan ketika mengembangkan sebuah produk — yang pasti akan berubah sepanjang waktu.

Terlepas dari semua perbedaan mereka, seorang manajer produk yang baik seharusnya mampu menghubungkan jarak yang ada di antara berbagai fungsi dalam perusahaan demi suksesnya sebuah produk. Id.techinasia

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami