Liputan

Titik Haryati: Anak Perlu Dilindungi dari Teknologi Gawai

BTN iklan

Jakarta,  – (LEI/12/8 )  Dimasa pandemi yang sudah berjalan lebih dari 1,5 tahun ini, memaksa anak-anak tiap hari membuka teknlogi gawai atau “gatget”, karena untuk keperluan sekolah maupun untuk bersapa dengan teman sekolah dan teman bermain lainnya. Namun penggunaan industri gawai yang berlebihan akan membahayakan anak-anak itu sendiri, sehingga perlu perlindungan.

Saat pandemi orang tua wajib memperhatikan anak-anaknya dalam mengakses seluler, karena seringnya anak menghibur diri, bermain game, dan interaksi sosial lainnya dapat mempengaruhi pola pikir anak anak itu yang kadang kala diluar dari kebiasan atau norma agama, kata Dr, Titik Haryati, M.Pd, pemerhati perempuan dan Anak, dalam diskusi Wibinar, menyambut tahun baru Islam 1443 H sekaligus memperingati hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945, di Jakarta, Kamis.
Menurutnya, setiap pertengahan Agustus, diperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Peringatan tahun ini punya arti penting karena selain memperingati tahun baru Islam Hijriah juga Kemerdeaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus.

Tugas kita, sebagai orang tua memastikan anak-anak untuk tetap menyediakan waktu belajar atau mengerjakan tugas dari sekolahnya dan tetap belajar mengaji, sehingga pola pikir anak akan terlindngi dari kecanduan hal-hal lan yang tidak bermanfaat bagi anak Indonesia untuk masa depan.
“Saat ini hampir semua informasi dapat diakses lewat gawai, sehingga kadang kala kita tidak ingat lagi waktu shalat dan pekerjaan lainnya karena lebih dari 7 jam dalam sehari digunakan bermain game atau bersosialita dengan sahabat sebaya lainnya,” kata Titik.
Titik yang juga Ketua Umum Ganas Annar, lembaga sayap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang bertugas ikut memberantas peredaran gelap narkoba, juga mengingatkan bahaya narkoba dan bahaya sosial lainnya.
“Kalaulah anak-anak kita lebih dari 7-8 jam bermain gadget, akan membahayakan dampak secara negatif bagi tumbuh kembang anak karena radiasi, konten-konten yang tidak mendidik, berita hoax, apa lagi terkait narkoba, maka jelas akan mempengaruhi perilaku, emosi dan menal,” katanya.
Anak PAUD menggunakan telepon seluler dalam 3 bulan terakhir hampir mencapai 29%, anak bayi usia kurang dari satu tahun 3,5 %, anak balita 1-4 tahun 25,9 %, begitu juga dengan anak usia 5-6 tahun 47,7 %, sehingga kehidupan sosial anak akan terpengaruhi karena cenderung individualisme.
Sebanyak 12 persen anak usia dini mengakses internet Anak pra sekolah memiliki proporsi paling besar 20,1% dibandingkan anak balita sebesar 10,7% dan bayi 0,9%, 0-1 % anak usia dini menggunakan komputer pada periode waktu yang sama.

Dampak negatif penggunaan Gadget pada Anak kata Titik, terbuang waktu, lemah perkembangan otak, menurun norma agama dan pendidikan, mengganggu kesehatan, timbul rasa individualisme, ketergantungan, timbul rasa malas, psikologis, interaksi sosial, dan malas belajar. Apa lagi gambar-gambar pornografi yang dikirim orang yang tidak bertanggung jawab, membuat rusaknya masa depan anak. Namun dampak positif dari gadet juga ada yakni sebgaai informasi, alat komunikasi, melakukan interaksi sosial, alat untuk berhitung, mengingatkan waktu, mengembangkan rasa percaya diri.

Dalam diskusi Webinar yang diprakarsai Gema peduli perempuan dan anak Indonesia (GPPAI), juga menghadirkan nara sumber Nahar, SH, MSi (Deputi Bidang perlindungan Anak KPPPA) dan Drs. Roy Suryo M.Kes (Mantan Kemenpora Kabinet Bersatu dan mantan politikus) dengan bahasan perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Perkembangan teknologi yang demikian pesat, dan penggunaan deget pada anak tidak terkontrol dengan baik, akan berdampak pada kecanduan sehingga perlu dilakukan upaya untuk pencegahan yang harus dilakukan ayah dan ibu antara lain: menerapkan disiplin, bertanggung jawab, konsisten, tegas, negosiasi penggunaan waktu dan durasi lama menggunakan seluler, komitmen, komunikasi dengan baik apabila ada beda pendapat.
Pada masa pandemi seluller sebagai kebutuhan, alat untuk belajar online, status sosial, bisnis, maka seluller sebagai ruang internet harus merubah akses negatif menjadi akses positif.
Sinergitas dalam mengembangkan kekuatan karakter pada anak perlu dibangun dari orang tua, guru dan tokoh masyarakat untuk mengembangkan mental, agama, interaksi sosial, kesehtaan, mental, pengelolaan emosi, berbahasa dengan baik, motorik yang terampil agar Anak dapat melakukan suatu pembiasaan kehidupan dengan lebih baik, katanya.
Kognitif dikembangkan pada kemampuan memiliki daya tangkal, daya juang dan daya saing, menghadapi ancaman, gangguan dan hambatan. Ia menutup, agar Peringatan Hari kebangkitan Teknologi terus dicermati dan menjadikan kesadaran teknologi akan terus berkembang dengan cepat sehingga perlu dimanfaatkan lebih baik sebagai sarana dan prasarana memenuhi kbutuhan. Yang penting, kemajuan tekonologi itu tidak meninggalkan jati diri sebagai bansga yang terkenal akan sopan dan santun serta teloren terhadap sesmanya.

@theo

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami