LiputanNasional

Tjahjo Kumolo Dorong Kampus Lawan Radikalisme dan Terorisme

BTN iklan

LAMPUNG, (LEI) – Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menghadiri acara Deklarasi Kampus Pancasila Anti Radikalisme dan Intoleransi di Universitas Negeri Lampung (Unila), Lampung. Dalam kata sambutannya di acara tersebut, Tjahjo menyambut baik dan mendukung penuh komitmen kalangan kampus untuk ikut melawan radikalisme, intoleransi dan terorisme. Karena radikalisme, intoleransi dan terorisme, kini bukan bahaya laten lagi. Tapi sudah jadi ancaman bagi bangsa Indonesia.

“Acara ini sangat penting yang tadi seperti yang sudah disampaikan Presiden BEM Unila, deklarasi untuk menentang masalah terkait dengan radikalisme terorisme yang sekarang menjadi ancaman bagi bangsa ini,” kata Tjahjo, di Lampung, Selasa (5/6).

Ia pun berterima kasih kepada Rektor, Presiden BEM dan seluruh civitas akademika Unila, yang telah meneguhkan komitmennya menjaga NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Serta bertekad untuk merawat kebhinekaan. Ia sendiri sebagai menteri selalu berusaha untuk bisa hadir di acara kampus. Karena kampus, merupakan benteng dan kawah candradimuka generasi penerus bangsa. Sangat penting, mencegah paham serta ideologi yang nyata-nyata ingin merusak bangsa masuk kampus.

Karena itu pula, ia mencoba untuk berkeliling dari kampus ke kampus. Dari beberapa hari yang lalu, ia sudah melakukan dialog dan pertemuan di beberapa kampus, seperti IPB, UGM, UIN dan universitas lainnya. Kata Tjahjo ini semata untuk menjalankan tanggung jawab sebagai abdi negara. Dan baginya kampus merupakan tempat atau wilayah yang sangat penting bagi masa depan bangsa. Ia pun berharap, seluruh kalangan kampus di Tanah Air, punya komitmen dan tekad yang sama terhadap NKRI. Semua elemen bangsa punya tanggung jawab membela bangsa dan negaranya, terhadap segala ancaman yang datang.

“Dimana kita berada, apa seorang mahasiwa, pejabat, atau siapapun apa yang kita perbuat harus dipertanggung jawabkan pada diri kita, keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa dan Negara dan nantinya harus mampu kita pertanggung-jawabkan,” katanya.

Negara Indonesia, lanjut Tjahjo adalah Negara hukum. Negara merdeka yang tentunya punya aturan. Indonesia juga negara besar. Beragam suku, agama dan budaya ada di Nusantara. Dan itulah inti dari kekuatan bangsa. Itu yang menguatkan Indonesia sebagai negara kesatuan. Karena itu harus dijaga dan dirawat.

“Negara mana pun pasti punya idoelogi dan Negara kita punya Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI, itu harga mati dan final,” ujarnya.

Tapi kata dia, masih saja ada orang yang lahir serta besar dan hidup di Indonesia, coba mengingkari itu. Bahkan berniat merubuhkan bangunan negara kesatuan dan ingin mengganti Pancasila. Harusnya mereka tak layak ada di Indonesia. Tapi di Indonesia, ada semangat gotong royong. Rasa saling asah, saling asuh. Di Indonesia semangat persaudaraan masih menjadi langgam. Maka, tak seperti yang lain. Ketika ada yang bengkok, semua wajib membina. Mengajak kembali ke jalan yang benar. Seperti ia contohkan ratusan warga yang pergi ke Suriah.

“Ratusan warga Negara kita yang meninggalkan Negara lalu pindah ke suriah. Lari ke Suriah, setelah sampai di Suriah bertahun-tahun tidak kerasan, lalu kembali ke Indonesia. Kita bina bersama masyarakat,” ujarnya.

Tjahjo juga menegaskan, Indonesia bukan negara otoriter. Di sini, di Indonesia, setiap warga bebas untuk berserikat dan berorganisasi. Tidak ada yang larang. Faktanya, saat ini ada sekitar tiga ratusan ribu lebih organisasi kemasyarakatan yang hidup di Indonesia.

Hanya saja ia mewanti-wanti, kebebasan berserikat dan berkumpul serta berorganisasi tidak kebablasan. Jangan sampai lantas membahayakan eksistensi negara dan ingin melenyapkan ideologi bangsa. Tentu, organisasi seperti itu tak pinya niat baik bagi bangsa. Semangatnya adalah ingin merusak dan memporak-porandakan NKRI. Terhadap organisasi seperti itu, semua elemen bangsa harus berani bersikap. Mereka adalah lawan republik.

“Yang penting tidak boleh sesat tetapi sebagai ormas, dia harus taat. Negara kita ada aturanya dan ideologinya yaitu Pancasila. Setiap pengambilan kebijakan politik pembangunan di semua elemen masyarakat termasuk TNI, polisi, sila- sila Pancasila harus dijalankan, saya kira akan aman da baik,” katanya.

Indonesia juga kata Tjahjo, adalah negara besar. Jumlah penduduknya salah satu terbanyak di dunia. Jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 226 juta lebih. Mayoritas beragama Islam. Tapi ada juga yang beragama lain. Semua hidup berdampingan. Dan, negara menjamin kehidupan beragama dan berkeyakinan. Seperti yang digali Bung Karno di Ende, yang kemudian melahirkan Pancasila. Pancasila yang sekarang jadi bintang penuntun bangsa.

“Sekarang ini setelah 73 tahun merdeka, mestinya kita bersaing dengan Negara lain. Tapi kita masih berkutat, masih ada pengkotak-kotakan, keinginan sekelompok orang, kelompok golongan yang ingin merubah Pancasila, dasar Negara kita dan itu di semua ada. Di perguruan tinggi Pancasila itu salah, ingin dia rubah,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, tentu tak gampang meramu kompleksitas masalah, kata Tjahjo. Tantangan kian meruyak di tengah kebebasan mendapat informasi. Radikalisme dan terorisme, menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi.

“Kita enggak tahu siapa kawan dan siapa lawan, siapa kanan kiri depan belakang kita. Di Surabaya siapa yang mengira sebuah keluarga yang santun setiap subuh, magrib selalu sholat berjamaah di membaur tapi dia punya satu keluarga punya niat untuk terror bom. Dua anggota polisi kita di markas besar lagi sholat tahu- tahu ditusuk ketangkep juga. Apa kita mau sholat masa kita mesti lihat kiri kanan kita. Data ini ada semua, kepolisian dan BNPT sudah punya. Di Lampung rumahnya mana, tinggalnya dimana, ada datanya, tapi enggak bisa kita curigai terus,” tuturnya.

Tentara dan polisi, kata dia, memang punya tanggung jawab terus memonitor itu. Tapi semuanya tak semata tanggung jawab aparat keamanan. Semua elemen bangsa punya tanggung jawab yang sama di lingkungannya masing-masing. Jika mahasiswa, tentu punya tanggung jawab di kampusnya. Ia pun berharap, kalangan kampus tetap berjiwa merah putih. Jangan sampai kemudian kampus disusupi paham atau kelompok yang ingin merobek merah putih.

“Boleh belajar apapun tapi prinsip harus diutamakan sebagai warga Indonesia adalah ideologi. Kita menjaga merah putih, menjaga NKRI. Ini sudah kayak semut semua merayap. Saya minta kepada adik-adik (mahasiswa) semua, mari kita harus berani menentukan sikap, siapa kawan siapa lawan pada perorangan, kelompok golongan, siapapun dia yang punya niat merubah Pancasila, memporak-porandakan Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945, itu lawan kita. Itu bukan tanggung kepolisian, TNI , tokoh agama, tokoh masyarakat saja tapi kita semua,” tutur Tjahjo.

Ia juga berharap, para mahasiswa tetap menjaga idealismenya. Tetap kritis. Dan tetap waspada, jika kemudian ada oknum yang nyata-nyata memusuhi republik.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close