HEADLINESHukum

Tren Merger & Akuisisi: Sektor Telekomunikasi dan Perbankan Ambil Manfaat

BTN iklan

JAKARTA/Lei  — Sektor telekomunikasi dan perbankan diproyeksi akan banyak memanfaatkan upaya merger dan akuisisi (M&A) untuk memenuhi kepentingan pertumbuhan hingga konsolidasi kinerja.

Jeami Gumarsjah, Senior Advisor Strategic Investment Departement PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., mengatakan perusahaan yang mengejar pertumbuhan besar, seperti sektor telekomunikasi berbasis teknologi, terus berekspansi ke lini usaha turunan.

Untuk itu, perusahaan akan mencari produk-produk yang dapat menunjang produk utamanya untuk diakusisi. Dia mencontohkan, tahun lalu, PT XL Axiata Tbk. menyetujui keputusan untuk melakukan M&A dengan PT Axis Telekom Indonesia (Axis), sebagai bagian pengembangan penggunaan spektrum tambahan di 1.800 Mhz agar mampu digunakan untuk membangun jaringan data.

“Akuisisi baru berpotensi menciptakan value, sedangkan integrasi menciptakan nilai yang sebenarnya. Kita lihat, keberhasilan M&A dari sektor telekomunikasi dari XL dan Axis,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (10/5).

Sementara arah konsolidasi, akan banyak hadir dari sektor perbankan yang memerlukan peningkatan kapital memasuki pasar bebas perbankan Asean 2020. Dengan begitu sektor perbankan terus bersiap, hanya siapa yang mau membeli bank kecil, jika tidak memberikan banyak keuntungan.

“Kita punya 115 bank, secara kapital tentu tidak semua besar, sehingga ketika dikompilasi dengan negara lain jadi kecil. Konsolidasi penting, tetapi memang mereka arahya akan sejenis,” katanya.

Penulis buku M&A Playbook ini, juga menganggap peluang perusahaan swasta maupun BUMN punya peluang yang sama untuk melakukan aksi korporasi. Menurutnya, dengan mengandalkan pertumbuhan bisnis melalui perkembangan maupun perluasan unit usaha (organik) dapat dilakukan.

Hanya saja, tantangan kompetisi bisnis dan keterbukaan pasar membuka peluang melakukan penggabungan perusahaan atau membeli perusahaan (anorganik).

Founder Mahaka Group Erick Thohir mengatakan konsolidasi untuk mengembangkan pasar memang terlihat dari ekspansi perusahaan asing. Tantangan M&A nasional juga dihadapkan dengan kepercayaan pendanaan dari perbankan yang dianggap rumit.

Dia menceritakan ketika melakukan M&A untuk sektor olahraga dan media, ragu untuk memberikan pendanaan, sehingga banyak pendanaannya diambilkan dari perbankan asing.

“Kalau merujuk perbankan di Singapura atau Amerika Serikat, aset yang digadai tidak hanya tanah dan bangunan, tetapi juga cash flow maupun perusahaannya. Rasanya industri kita juga harus studi banding, karena bisnis baru sekarang tidak hanya hardware tapi software,” katanya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami