Hukum

Triputra Pilih Tunggu Dana Investor

BTN iklan

JAKARTA — Pengembang PT Triputra Karya Agung memilih untuk menunggu suntikan dana dari investor untuk menyelesaikan kewajiban kepada seluruh krediturnya dalam proses restrukturisasi utang.

Berdasarkan proposal perdamaian, Direktur Utama PT Triputra Karya Agung Andrianto Trisnadi akan bekerja sama dengan investor yang bergerak di bidang properti agar pembangunan, serah terima unit, dan operasional bisnis segera dapat berjalan.

“Sumber pendanaan untuk penyelesaian tagihan seluruh kreditur berasal dari suntikan dana investor sebagai investasi awal dan pengembangan usaha,” tulis Andrianto dalam proposal yang dikutip Bisnis, Minggu (9/10).

Dia menambahkan sumber lain yakni hasil usaha atau keuntungan melalui pengembangan pembangunan bisnis properti yang dijalankan setelah adanya investor.

Debitur juga akan melakukan kerja sama dengan partner strategis untuk mengembangkan usaha properti. Penyelesaian kewajiban terhadap kredi tur konkuren yang sebagian pembeli unit adalah menyelesaikan pembangunan apartemen setelah menerima dana investor dan diikuti serah terima unit.

Adapun, progres pembangunan saat ini sudah mencapai 70%. Di sisi lain, pihaknya juga akan melakukan restrukturisasi bilateral dengan PT Bank Panin Tbk. agar bisa melanjutkan pembangunan apartemen Royal Tulip Degreen Bandung.

Emiten berkode PNBN tersebut mempunyai tagihan senilai Rp280,03 miliar. Tagihan tersebut bersifat separatis karena bank memegang jaminan aset da ri debitur.

Tanah dan bangunan yang dijaminkan memiliki luas 3,2 hektare atas nama debitur sendiri. Dalam penilaian dari tim appraisal pada 2014, nominal atas objek tanah SHGB, bangunan, serta sarana pelengkap sebesar Rp545,21 miliar.

Satu-satunya aset debitur telah dijaminkan beserta jaminan (borg tocht) dari PT Central Lingga Perkasa. Andrianto menjelaskan penurunan kinerja bisnisnya disebabkan karena sengketa terkait dengan pekerjaan antara debitur dan Bank Panin. Sengketa tersebut mengakibatkan pembiayaan tahap selanjutnya tidak cair.

“Kami akan segera melakukan per te mu an dengan pihak bank guna re struk tu ri sasi utang, yang dibayar setiap bulan sesuai kemampuan finansial perusahaan,” ujarnya.

Secara terpisah, salah satu pengurus restrukturisasi utang debitur Kristandar Dinata mengatakan total tagihan yang masuk dan diakui baru mencapai Rp120 miliar dari 114 kreditur.

Pihak Bank Panin justru tidak mendaftarkan tagihannya hingga batas akhir. “Begitu bank tidak mendaftarkan tagihan, secara otomatis mengundurkan diri dari proses PKPU ,” kata Kristandar.

TIM PENGURUS

Kendati demikian, tagihan dari Bank Panin tidak akan mengganggu proses restrukturisasi utang. Adapun, pemungutan suara atas proposal perdamaian akan dilaksanakan pada 18 Ok tober 2016.

Tim pengurus mengaku sudah membentuk panitia kreditur yang berjumlah tujuh orang. Nantinya, panitia kreditur akan memberikan informasi yang merata kepada ratusan kreditur atau mengajukan usulan selama proses PKPU.

Berdasarkan data keuangan debitur, total kewajiban yang harus dipenuhi sebesar Rp660,71 miliar. Perinciannya, kantor pajak Rp31,37 miliar, Bank Panin Rp280,03 miliar, 302 pembeli unit Rp291,59 miliar, 16 pemasok Rp57,7 miliar.

Perlihatkan Lebih

7 Comments

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami