Internasional

Umat Buddha Myanmar Kutuk Penggerebakan Pemerintah Thailand Terhadap Vihara

BTN iklan

Yangon, 24/2 (Antara/Reuters) – Sekitar 100 bikhu Buddha dan warga di Myanmar, Jumat, menggelar unjuk rasa dan mengecam tindakan pemerintah Thailand terhadap vihara, yang menolak menyerahkan bikhu buron.

Pada sepekan lalu, polisi dan tentara Thailand mengepung vihara Dhammakaya di luar kota Bangkok dalam upaya mencokok mantan kepala vihara, yang menjadi buron karena perrkara pencucian uang, namun upaya tersebut digagalkan pengikutnya.

Itu tantangan terbesar pemerintahan militer Thailand sejak kudeta pada 2014. Dhammakaya berupaya mendorong pendukungnya di luar negeri menentang tindakan pemerintahan tersebut, yang menerapkan undang-undang darurat.

Pengunjuk rasa berkumpul di sisi luar Kedutaan Thailand di pusat niaga Myanmar di Yangon, termasuk sejumlah pegiat dan bikhu terkait dengan kelompok politik nasionalis.

“Kami menderita karena umat Buddha di negara tetangga dipecundangi sehingga kami tidak bisa tinggal diam,” kata Tin Htut Zaw, koordinator kegiatan itu.

Pengunjuk rasa memberikan surat kepada kedutaan itu, yang berisi seruan kepada Thailand agar menghentikan penyerangan terhadap tempat ibadah umat Buddha itu, demikian kata dia.

Juru bicara Departemen Investigasi Khusus Thailand menyatakan bahwa undang-undang tersebut dan perintah operasi dilakukan karena sangat menghormati umat Buddha.

Sekretaris Serikat Unit Bikhu Patriotik, U Thuseikta, 10 anggota Perhimpunan Negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) dan kelompok hak asasi manusia seharusnya melindungi kaum Buddhis Thailand dari perlaku semena-mena pemerintahan mereka.

Beberapa pengunjuk rasa yang sama, termasuk U Thuseikta, menggelar unjuk rasa kecil untuk menentang kapal Malaysia yang mengirimkan bantuan kepada kaum minoritas muslim Rohingya di Myanmar pada 9 Februari 2017.

Beberapa pemeluk agama Buddha di Myanmar menolak label Rohingya dengan menyebut lebih pada satu juta orang yang tinggal di negara Rakhine itu sebagai warga Bangladesh tersebut menganggap mereka sebagai penyusup dari Bangladesh.

U Wirathu, tokoh utama jaringan nasionalis yang secara luas dikenal sebagai Ma Ba Tha, juga memimpin aksi unjuk rasa pada Kamis di pusat kota Mandalay, Myanmar.

Dalam halaman akun Facebook-nya, dia mengecam penggerebekan yang dilakukan oleh pemerintah Thailand.

Sejumlah bikhu dan kepolisian terlibat perkelahian di Vihara Dhammakaya, Senin (20/2), saat pasukan kepolisian berupaya menangkap mantan kepala vihara berpengaruh terkait tuduhan pencucian uang.

Kepolisian berupaya menghindari kekerasan pada saat muncul ancaman penangkapan terhadap pengikut tersebut, yang tinggal di vihara itu dan menolak perintah meninggalkan tempat tersebut, malahan berbondong-bondong ke vihara sehingga menghambat perburuan terhadap Phra Dhammachayo, yang berusia 72 tahun.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami