Hukum

UMY Juara I NMCC Peradi 2020 Raih Piala Cicero

BTN iklan

Jakarta, LEI‎ – Tim dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FH UMY) berhasil keluar sebagai juar I National Moot Court Competition (NMCC) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) 2020. Tim ini pun membaya pulang piala ‎Cicero atau Marcus Tulius Cicero.

Tim ‎FH UMY menjadi juar pertama setelah menyisihkan 2 finalis dari FH Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada babak final Jakarta.

FK UMY ditetapkan sebagai juara pada Minggu malam (9/2/2020) di Hotel Ciputra, Jakarta Barat (Jakbar). Tim FH Unnes harus puas di posisi kedua dan Tim FH UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai juara ketiga.

M. Ramdan, perwakilan dari Tim FH UMY, mengatakan, Piala Cicero dalam ajang peradilan semu (moot court) NMCC Peradi 2020 di bidang Tata Usaha Negara ini merupakan kebanggaan bagi tim dan UMY.

Menurutnya, prestasi ini merupakan hasil kerja keras semua anggota tim dan pihak terkait. Tim mengorbankan waktu liburan hingga terpaksa absen untuk belajar di kelas.

“Ini latihan kami tidak segampang, tidak semudah orang lihat, baik pemberkasan kurang lebih 4 bulan kita lewati untuk latihan sidang,” kata Ramdan.

Tim FH UMY dinobatkan sebagai jawara setelah meraih 5 piala dari 6 kategori yang dipertandingkan. Kelima piala tersebut yakni saksi atau ahli terbaik, penggugat terbaik, tergugat terbaik, dan majelis hakim terbaik. Adapun UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meraih nominasi berkas terbaik. Masing-masing juara nominasi tersebut mendapat piala dan hadiah uang tunai sejumlah Rp1 juta.

Sedangkan untuk juara 1 mendapat Piala Cicero dan uang tunai Rp 25juta serta beasiswa Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) senilai Rp10 juta dari Soesilo Aribowo & Rekan. Unnes selaku juara kedua mendapat uang tunai Rp20 juta dan beasiswa PKPA senilai Rp10 juta dari Kusumanegara & Partners. Sementara itu, UIN Kalijaga mendapat hadiah Rp15 juta dan beasiswa PKPA Rp10 juta dari Lie, Hutabarat & Partners.

Ketua Panita NMCC Peradi 2020, Bambang Hariyanto, mengatakan, ‎ada 31 delegasi dari berbagai fakultas sejumlah universitas dan sekolah tinggi ilmu hukum. Dari jumlah ini, 12 delegasi dinyatakan lolos administrasi dan bertarung di babak penyisihan.

Ke-12 delgasi tersebut yakni dari Universitas Sebelas Maret, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Sumatera Utara, Unnes, Universitas Darma Cendika‎, UMY, Universitas Krisnadwipayana, Unair, Universitas Bandar Lampung, Unhas, STIH Sumpah Pemuda, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

“Moot court competition adalah ajang bergengsi, sehingga tiap fakultas hukum siapkan tim. Tapi yang paling lazim peradilan semu ini di bidang perdata dan pidana. Di Indonesia belum ada tema Tata Usaha Negara (TUN). Oleh karena itu, Peradi ambil tema tata usaha negara,” ujarnya.

Selain tema, NMCC Peradi kali ini memakai pola e-litigasi. Ini dipilih seiring langkah MA menerapkan e-court. Langkah ini demi mendorong semua peradilan menerapkan e-litigasi atau cara-cara moderen demi peradilan cepat dan biaya murah.

“Kami berharap NMCC ini jadi agenda tetap dan jadi ajang bergengsi serta ditunggu oleh ‎perguruan tinggi selama 2 tahun sekali,” ujarnya.

‎Sementara itu, Ketua Umum Peradi, Fauzie Yusuf Hasibuan, mengatakan, ajang ini merupakan sebuah kritikan penuh dalam sistem rekruktem S1. Evaluasi nasional menunjukkan bahwa tamatan S1 dan S2 itu belum menunjukkan setelah tamat bisa memberikan pengabdian dan memiliki profesional yang minimal sebagai penegak hukum.

“Jadi akhirnya peradian semu ini sebuah upaya untuk mendorong dalam bentuk edukasi anak-anak muda S1 memiliki kemampuan profesional yang mendekati agar dia bisa masuk ke peradilan nyata dunia hukum kita,” katanya.

Fauzie menyampaikan, Peradi di bawah kepemimpinannya sudah merekrut hampir sekitar 27 ribu advokat baru melalui PKPA sebagai respons terhadap UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat.

“‎Kalau anggota advokat Peradi sekarang kurang lebih ada 55 ribu orang dari Sabang sampai ke Merauke,” katanya.

Sementara soal Cicero yang dipilih sebagai piala, Fauzie menyampaikan, Cicero mempunyai integritas menegakkan keadilan dan kebenaran. “Dia rela mati untuk menegakkan sebuah prinsip kebenaran. Itulah abdi yang ditunjukkan kepada dunia,” katanya.‎

Ketua Dewan Pembina DPN Peradi, Otto Hasibuan, menambahkan, harusnya moot court (peradilan semu) bukan hanya dilakukan di berbagai lembaga yudikatif, seperti MA, Kejaksaan, dan lembaga hukum lainnya termasuk Peradi.

“Universitas di seluruh Indonesia secara mandatori harus melakukan ini. Karena inilah dia bisa mengenal peradilan di dunia nyata, ini harus dilakukan oleh fakultas hukum di universitas,” kata Otto.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami