Traveling

Volendam Untuk Cermin Jakarta

BTN iklan

AMSTERDAM , 25/2 LEI – Volendam adalah kota kecil yang terletak di kota tua, Nederland bagian barat.

Kota ini relatif kecil, 5 tahun silam jumlah penduduknya tak lebih dari 21 ribu jiwa, tetapi mereka tetap sahaja meski hidupnya sebagian besar berada di bawah 4 – 6 m permukaan laut Amsterdam.

Desa itu disebut kampung nelayan, sehingga para pengunjung bisa menikmati sajian dan menu fish and chip dengan harga sekitar 15 euro setara Rp150 rinu per kursi.

Penduduk di wilayah itu tak takut ketumpahan air laut meski tempat tinggalnya berada di bibir pantai itu. Bangunan rumah mungil di bangun di bibir pantai, dan rumah itu kata Leo Kawilarang, pimpinan tour leader dari Jakarta, pekan lalu di Volendam, tak pernah nambah utamanya bangunan bertingkat.

“Pemerintah kotanya konsisten menjaga warisan budayanya sehingga sampai saat ini terjaga meski wilayah itu telah dihuni penduduk setempat sekitar 700 tahun silam atau sekitar tahun 1357 M, kawasan itu telah dihuni banyak orang”, kata Leo.

para wismam ondonesia yang berkunjung ke Volendam Belanda

Konsistensi pemerintah kota untuk tidak merusak lingkungan, tidak mengubah area industri dan perkotaan itulah yang justru kini menjadi salah satu area wisata utama.

Presiden ke tiga RI Megawati Soekarno Putri beserta alm. Taufik Kiemas, Titik Puspa, Mayaromantir dan sejumlah artis Indonesia, tampaknya pernah ke kawasan itu karena para tokoh yang berkunjung fotonya di pajang di depan galery toko sovenir yang juga menjajakan foto ala pakaian adat Belanda tempo dulu.

suasana di bibir pantai Volendam

Menurut Beny, salah satu wisatawan Indonesia, mestinya Jakarta perlu belajar menjaga kotanya agar tidak kebanjiran.

Mengapa Volendam tidak banjir, sumber lain menjawab, pemerintah kota tetap menjga resapan air daratan tidak lari ke laut, sementara air laut telah lama di bendung agar tidak tumah ke darat.
Sirkulasi pengaturan air yang apik dan baik itulah yang perlu dicontoh, utamanya dalam menjaga lahan tidak di ubah menjadi area mal, area pertokoan hingga area wisata yang tidak terkontrol. Intinya, para pejabat Indonesia sudah sering lakukan studi komperatif ke tempat ini, tapi mereka belum mengikuti alur itu karena studinya lebih di arahkan untuk jalan-jalan atau soping di tempat perbelanjaan.

Lihatlah toko berlian Gasaan, yang tak jauh dari kawasan itu, tiap bulan ramai di datangi wisata Indonesia, mereka berbelanja berlian yang harganya minimal 6 juta hingga miliaran rupiah, tergantung karatnya.

Selain memasarkan berlian toko itu juga memasarkan jam tangan berbagai merek yang harganya juga jutaan rupiah atau 7,500 euro setara Rp 175 juta, bahkan ada yang sampai miliaran rupiah tergantung jumlah karat.

Jam tangan yang dijual di salah satu toko souvenir

“Wisata Indonesia rajin belanja, oleh karenannya pemilik toko perlu merekrut orang-orang Indonesia agar memberikan pelayanan yang baik kepada pembelinya,” kata sumber di situ.

Selain wisman Indonesia, juga wisman dari China yang rajin belanja.

Intinya orang-orang Asia ekonominya tampak lebih tumbuh konsumtif khususnya wisman Indonesia ketimbang wisman Eropa itu sendiri.

Laporan theo yusuf dari Amsterdam.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 3 =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami