Entertainment

Warisan Hutang dan Korupsi

BTN iklan
“Apakah Anda bahagia?” tanya Inanda (Palka Kojanson)

Judul: Warisan

Karya/sutrada: N. Riantiarno

Co-sutradara: Ohan Saputra

Tempat tgl pertunjukan: Gedung Kesenian Jakarta 10-20 Agusttus 2017

 

Layar terkembang dan tonil dimulai dengan adegan orang-orang tua sedang melakukan senam. Tampak sekelompok  orang jompo  berseragam rapih dengan tertib melakukan gerakan-gerakan senam dengan leluasa dan gembira. Tampak pula di tengah panggung sekelompok jompo miskin  melakukan kegiatan yang sama, hanya mereka tidak leluasa bergerak. Saking sempitnya mereka hanya menggerak-gerakkan telapak tangan, menepuk-nepuk pundang yang mungkin ngilu atau sekadar memutar-mutar kepala, ini karena keterbatasan ruang.

Riantiarno menyajikan dua kelompok secara bersamaan dengan indah, cerita mulai dengan munculnya munculnya Sularsi (Tuti Hartati) putri bungsu seorang penulis kaya Kirdjomuldjono alias Samana Sama (Idries Pulungan) yang mempunyai obsesi menerbitkan buku dan untuk itu dia minta tinggal di panti jompo untuk menuliskan karya masterpiece nya. Sayangnya Kirdjomuldjono tidak kunjung menulis karena selalu terganggu teriakan Munan (Budi Ros) ketika orang tua yang  selalu ditopang kursi roda elektronik ingat akan anaknya yang korupsi. Ketika Munan teringat anaknya dan berteriak mengumpat,  Miranti (Ratna Riantiarno) selalu menenangkannya. Memang teriakan dan raung tangis dan makian  Munan ini memang mengganggu penghuni lainnya, tetapi mereka bisa memakluminya, kecuali Kirdjomuldjono yang selalu merasa terganggu, dan ingin membunuhnya. Keinginan ini diam-diam diketahui oleh Sularsi yang kemudian melapor ke Ibu direktur Mariam Pengis (Neta Khusumah Dewi) dan meminta agar rencana ayahnya  ini dicegah. Ibu Mariam menugaskan dua orang Satpam yakni Blekutak (raheli Dharmawan) dan Jahir (Julung Ramadhan) untuk mengawasi Munan dan Miranti, serta Kirdjomuldjono.

Adegan Kadirun dan Yula dengan latar belakang Dahlia, Kadran dan Yunantira sedang bermain mahyong.

Rumah jompo yang dikelola oleh Ibu Mariam Pengis ini dibagi dua dan dibatasi oleh tembok tinggi. Di balik tembok tinggal jompo miskin. Mereka adalah Binanti (Andhini Putri Lestari) Juhana  (Arifano Marshal) Kamer (Dorias Pribadi) Sikrihahahi (Ratna Ully) Sitaniah (Suntea Sisca) Sukran (Dana Hassan) dan Orang Miskin 1-5 yang diperankan oleh  Radhen Darwin, Ledy Yoga, Roma Gia, Indrie Djati dan Toni Tokim. Mereka ini  hidup  tidak terurus, ruang gerak mereka semakin sempit. Pada adegan adegan jompo miskin sebagian penonton tampak mengalami kebosanan. Mungkin para pemain mengalami keterbatasan dalam menggunakan visualisasi untuk meningkatkan proyeksi, sehingga pesan melalui dialog siulit  sampai pada penonton,  jauh berbeda pada adegan adegan yang ada di jompo kaya.

Memang salah satu cara membentuk mood pertunjukan adalah dengan pencahayaan dan suara. Mereka adalah alat terbaik Anda untuk menggambarkan emosi dari cerita. Suasa nyaman ditunjukkan dengan ruang yang luas properti, dan pencahayaan  yang jitu. Emosi pertunjukan ini terbangun dengan pencahayaan dan suara yang menghubungakan suasana hati pertunjukan dengan penonton, dialog Kadirun (Rangga Riantiarno) terdengar lebih menarik dingan bunyi Cipoa atau kalkulator Cina yang digunakann Yula (Rita Ratu Mona). Bunyi kocokan mahyong yang dimainka oleh Kadran (Ohan Adiputra), Dahlia (Daisy Lantang) Yunantira (Elly D. Luthan) membangun suasana.

Tangis dan jeritan Munan ketika mengingat anak sulung tidak cukup untuk mendramatisir atau menyampaikan pesan moral buruknya korupsi. Pesan tonil ini justru disampaikan oleh Sakiro (Sir Ilham Jambak) dan Subrat (Bayu Dharmawan Saleh)  yang selalu saja mendiskusikan kerja presiden negeri Indosinana dan hutang-hutang yang dibuat pemerintah dan anak cucu yang menanggungnya.

Memang musik dan koreo bisa memainkan peran besar dalam menciptakan suasana. Ini adalah kesalahpahaman umum bahwa sebuah drama perlu musikal untuk memiliki musik. Musik tidak hanya mengatur mood, jangan silap, musik dan koreo bisa mengacaukan setting sebuah lakon.  Warisan mengambil lokasi di sebuah panti jompo, musik dan koreo yang bagaimana yang sesuai dengan rumah jompo. Memang Teater Koma terkenal dengan pertunjukannya yang indah, dan rinci. Tonil suguhan Teater Koma tetap indah dan rinci walau tanpa musik dan koreografi. Warisan adalah pertunjukan  seni laku yang membuat selalu membuat penonton  terpaku di bangku (Rosa Widyawan)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

5 Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami