HukumInternasional

Yang Diandalkan Dari Tax Amnesty

BTN iklan

JAKARTA/Lei – Naiknya persepsi risiko investasi di Indonesia diprediksi bersifat sementara dan dapat diredam oleh masuknya dana tax amnesty ke instrumen investasi.

Memasuki awal November 2016, persepsi risiko investasi di Indonesia yang dicerminkan lewat rasio credit default swap (CDS) bertenor lima tahun terus menanjak naik. Puncaknya terjadi kemarin saat CDS tenor lima tahun menembus level 190,35, naik hampir 30 poin dari posisi 10 November 2016 yakni 161,29.

Sementara itu, CDS 10 tahun pada 14 November 2016 bertengger di posisi 272,55, naik 43 poin dari posisi 9 November 2016 sebesar 229,49.

Kenaikan CDS tersebut seiring dengan naiknya imbal hasil surat utang negara (SUN). Imbal hasil SUN 10 tahun kemarin sudah berada di posisi 7,83%, naik sekitar 45 bps dari posisi 9 November 2016 saat pemilihan presiden AS digelar.

Kemenangan Donald Trump dalam hajatan besar demokrasi itu membuat pasar bergejolak dan membawa imbal hasil negara berkembang, termasuk Indonesia, naik tajam.

Tiga analis yang Bisnis hubungi sepakat penaikan CDS disebabkan oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan ekonomi yang akan diambil Trump. Mereka pun setuju tidak ada satu pun sentimen dari dalam negeri yang mempengaruhi naiknya imbal hasil SUN dan CDS Indonesia, apalagi melihat fundamental ekonomi Indonesia yang kuat.

Maximilianus Nico Demus, Fixed-Income Specialist Indomitra Securities, mengatakan persepsi risiko investasi Indonesia meningkat, khususnya ekspektasi pelaku pasar terhadap pasar obligasi yang diterpa sentimen negatif global.

“Persepsi risiko investasi memang naik, tapi masih terukur. Selama fundamental kuat seperti menipisnya defisit, surplus neraca perdagangan, dan cadangan devisa yang lebih baik, tidak ada masalah,” kata Nico, Selasa (15/11).

Menurutnya, posisi CDS Indonesia lima tahun saat ini masih di level nyaman dibandingkan dengan Januari 2016 yang saat itu di sekitar 238. Nico yakin banjirnya dana amnesti pajak ke instrumen investasi, terutama investasi sektor riil, dapat menahan penaikan lanjutan CDS.

Josua Pardede, Ekonom Bank Permata, memperkirakan bila kebijakan ekonomi Trump memicu penaikan inflasi lebih cepat yang berujung pada naiknya Fed Fund Rate, investor bakal mengurangi porsi investasi di negara berkembang lantas beralih ke investasi dolar AS dan US Treasury.

Saat ini, pergerakan SUN Indonesia sangat berkaitan erat dengan pergerakan US Treasury. Kemarin, imbal hasil US Treasury 10 tahun di posisi 2,3%, meningkat 50 bps dalam beberapa hari terakhir ini.

“Antisipasi kita terhadap penurunan pasar obligasi cepat. Bank Indonesia langsung masuk pasar, begitu juga dengan Kementerian Keuangan. Kalau kondisi ini berkepanjangan, tumpuan utama hanyalah investor domestik seperti BPJS untuk masuk terus ke pasar obligasi,” ucap Josua, Selasa (15/11).

Menurutnya, masih ada sentimen positif dari dalam negeri yang dapat menahan laju koreksi pasar, yakni dana program amnesti pajak. Wajib pajak yang mencatatkan repatriasi mencapai Rp143 triliun.

Dari jumlah itu, dana repatriasi yang benar-benar sudah masuk sekitar Rp40 triliun. Maka, masih ada setidaknya Rp100 triliun dana repatriasi hingga akhir tahun ini.

“Dana sebesar itu dapat menopang pasar keuangan kita. Ini sentimen positif buat pelaku pasar obligasi,” ujar Josua.

Sementara itu, I Made Adi Saputra, analis fixed-income MNC Securities, mengatakan kondisi penaikan imbal hasil SUN dan turunnya harga obligasi saat ini dapat dimanfaatkan investor domestik untuk membeli surat utang.

Bahkan, momen saat ini dapat dimanfaatkan betul-betul oleh perusahaan asuransi dan dana pensiun untuk memenuhi porsi investasi di SBN sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan.

“Pasar saat ini bereaksi berlebihan, investor asing keluar. Tapi manfaat positifnya adalah investor domestik bisa masuk di harga diskon,” kata Made (bisnis)

Perlihatkan Lebih

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami