Opini

Yang Gemar Berita Palsu dan Gosip Sekarang Bukan Cuma Perempuan Saja

Pentingnya literasi

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Sering terdengar bahwa perempuan adalah kelompok yang gemar menerima dan memberi gosip dibandingkan dengan laki-laki, meskipun tudingan tersebut belum tentu benar.

Pada tahun 1953 pelukis Hendra Gunawan menggoreskan cat minyak di atas kanvas yang merekam tiga perempuan dari tiga generasi sedang mencari kutu rambut.

Waktu itu, mencari kutu rambut banyak dilakukan oleh kaum perempuan pada waktu senggang sambil mengobrol kosong, bergosip, bahkan juga meneruskan nasihat kepada anak-anak.

Mencari kutu rambut sudah tidak terlihat di kota-kota besar, tetapi masih bisa ditemukan di perdesaan, sedangkan untuk mengobrol kosong sekarang sudah digantikan dengan alat komunikasi yang terus menerus berkembang, yaitu telepon genggam, tap, komputer jinjing, dengan media sosial, seperti Whatsapp, Twitter, Facebook, Instagram, email, dan lain sebagainya.

Peserta mengobrol tidak lagi dibatasi oleh tempat, waktu, dan ruang. Setiap saat dan di mana pun dapat terhubung dan informasi yang keluar-masuk melalui ruang obrolan pribadi yang sangat intim misalnya anggota keluarga dan sahabat bisa dengan cepat menyebar ke umum.

Seorang warga Jakarta pernah mengunggah foto tips memeram buah alpukat di FB dan grup WA untuk rekan-rekannya dan dalam waktu beberapa minggu, unggahannya sudah terpampang sebagai poster di sebuah toko swalayan, tanpa menyebut kreditnya sebagai “penemu” tips tersebut.

Berita lebih cepat menyebar dan tidak mudah lagi membedakan berita benar atau berita palsu, dari mana sumbernya, dan siapa yang memviralkan.

Pada Februari 2012, seorang perempuan India dikabarkan melahirkan 11 bayi, suatu peristiwa yang memecahkan rekor dunia.

Kabar tersebut cepat sekali menjadi viral, bergulir melalui media sosial dan banyak orang yang percaya karena beritanya dilengkapi dengan foto tim dokter dan perawat yang berpose di depan jajaran 11 bayi yang dibaringkan di depan mereka.

Publik percaya pada kabar tersebut karena ada foto yang menyertainya, dan bahkan ada tautan media massa yang menyiarkannya, yaitu Zambian News dan situs hiburan tumfweco.

Melahirkan bayi kembar dua adalah kejadian yang jamak, meskipun langka, kembar tiga juga dianggap masih lumrah, tetapi kembar lebih dari empat apalagi 11 bayi bisa menggugah rasa ingin tahu.

Perasaan ingin tahu itu yang mendorong orang “melahap” informasi dan berita-berita yang dianggap unik, menarik, memiliki unsur kedekatan dengan diri dan lingkungan serta penting baginya.

Pada saat ini hampir semua orang mempunyai perangkat komunikasi yang memungkinkan orang mengirim berita, menyiarkan, dan membaca/menonton berita di mana saja dan kapan saja dengan kecepatan seketika.

Kemampuan untuk mengendalikan informasi ada di tangan setiap orang dan pada satu sisi bisa menguntungkan dan berdampak menyebarkan pengetahuan dan kebaikan, namun ibarat pisau yang merupakan peralatan sangat penting bagi hidup manusia, maka peranti komunikasi juga bisa menjerumuskan dan menimbulkan petaka.

Entah dari mana sumbernya, ternyata berita perempuan melahirkan bayi kembar 11 tidak pernah terbukti karena tidak ada lagi berita kelanjutannya.

Kabar tersebut bisa jadi merupakan perbuatan iseng oleh “penguasa” teknologi komunikasi yang dengan tujuan tertentu menyebarkan berita palsu atau hoaks.

Fakta yang terbukti adalah tentang kelahiran 11 bayi pada hari yang sama di rumah sakit yang sama dengan tanggal yang unik, yaitu tanggal 11 bulan 11 (November) tahun 2011.

Mereka adalah bayi-bayi dari 11 ibu yang mengikuti program bayi tabung di rumah sakit abad 21 di Kota Surat, India dan para ibu hamil itu sengaja memilih tanggal yang khas untuk kelahiran putra putri mereka.

Foto yang beredar adalah asli tentang kelahiran 11 bayi tabung, namun tulisan yang ditempelkan di foto itu mengacau dengan menyebut kelahiran bayi kembar 11 dari seorang ibu. Informasi tersebut sangat mencolok karena menarik bagi dunia kedokteran.

Kembar terbanyak dari satu ibu sampai sekarang adalah persalinan oleh seorang perempuan di Australia pada 1971 tetapi sembilan bayi kembar itu seluruhnya meninggal dalam usia enam hari, kemudian juga ada seorang ibu di Malaysia yang melahirkan sembilan bayi pada 1999 tetapi bayi-bayi tersebut hanya bertahan selama enam jam.

Keisengan seperti ini banyak ditemukan, dengan menulis kata kunci tertentu kita bisa mendapatkan berita-berita aneh yang kebenarannya sulit dipastikan, misalnya tentang perempuan yang melahirkan bayi setengah gajah, hewan aneh, mayat hidup lagi dan masih banyak yang lebih aneh.

Petaka Berita palsu atau hoaks bisa menimbulkan petaka. Peristiwa yang dilaporkan di India juga pada bulan Mei 2018, tentang seorang perempuan yang sedang menanyakan arah jalan tetapi dipukuli hingga mati oleh warga yang mengira perempuan itu adalah penculik anak.

Sebelum kejadian tersebut di daerah Tamil dilaporkan ada banyak anak yang diculik dan pesan berantai Whatsapp menyebutkan ada 400 pendatang yang berkeliaran di daerah itu untuk menculik anak.

Kejadian ini menunjukkan betapa mudahnya orang percaya pada satu berita yang diperolehnya melalui media sosial, pesan berantai di dunia maya dan menyebarkannya tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.

Kasus serupa terjadi di Pontianak ketika seorang pria gila kehilangan nyawa dianiaya karena diduga akan menculik anak.

Berita-berita palsu yang menyesatkan banyak ditemukan misalnya isu telur palsu, beras plastik, garam bercampur kaca yang merugikan secara finansial bagi produsen serta mengganggu kenyamanan masyarakat.

Tidak tanggung-tanggung berita-berita tersebut dilengkapi dengan video yang memperlihatkan gambar-hidup untuk meyakinkan konsumen berita.

Beberapa video dan berita itu sengaja dibuat dan polisi pun menangkap tersangkanya.

Banyak video dan foto yang menyertai berita palsu tersebut adalah asli seperti kasus bayi kembari 11 tersebut, yang oleh penyebar berita palsu sengaja dilekatkan dengan tujuan mengelabui khalayak dan video tersebut dengan cepat beredar di masyarakat karena sikap warga yang “asal” menyalin dan membagikan informasi tanpa bersedia memeriksa kebenarannya.

Misalnya sebuah rekaman yang memperlihatkan pembuatan sayur-mayur plastik dilengkapi keterangan, “Waspadalah banyak beredar kubis palsu, selada palsu”.

Dalam teori komunikasi dikenal mengenai arus informasi berantai yang sulit dipertahankan keasliannya karena infonya bisa berkurang atau bertambah bergantung pada penerima pesan yang kemudian meneruskannya.

Dalam suatu kelompok Whatsapp yang anggotanya ibu-ibu pernah tertulis keluhan seperti ini, “mau masak nasi berasnya plastik, sayurnya plastik, garam bercampur kaca, telur palsu, lalu bagaimana baiknya?” Kali lain, ada yang membagikan informasi tentang tiket promo dan gratis dari perusahaan penerbangan Garuda Indonesia yang segera disambut oleh anggota yang lain untuk merancang pesiar bersama-sama.

Tidak lama kemudian ada informasi yang menyebutkan berita tersebut hoaks dan pengirim pesan pun meminta maaf serta mengakui kelalaiannya.

Informasi mengenai lowongan pekerjaan biasanya lebih cepat menyebar, terutama di kalangan para orang tua yang ingin anaknya segera mendapat pekerjaan. Biasanya ketika berbagi akan diembel-embeli pesan “Silakan barangkali berguna bagi anak, keponakan dan cucu.” Ujaran kebencian Sudah banyak terbukti berita-berita hoaks yang mengandung ujaran kebencian, menyudutkan kelompok atau orang tertentu meskipun belum tentu kebenarannya.

Belum lama ini misalnya beredar isu penyerangan terhadap ulama, diawali dengan peristiwa nyata yang kemudian diimbuhi dan bahkan berkembang hingga puluhan isu terkait, demikian pula berita-berita palsu yang berbuntut pada pengeroyokan juga, tuntutan atas pencemaran nama baik.

Bulan April lalu di sosmed khususnya WA di kalangan umat Katolik beredar informasi mengenai seorang biarawati yang memaparkan kegiatan sosial merawat orang gila di Maumere, Flores Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sedang mengalami kesulitan keuangan.

Informasi yang beredar di kalangan umum terbatas itu segera mendapat sambutan dan beberapa simpatisan mengirimkan donasi, tetapi hanya dalam waktu satu malam ada susulan edaran yang mendiskreditkan kegiatan sosial tersebut sebagai upaya memupuk keuntungan pribagi. Para donator kebingungan dan berita tentang kegiatan tersebut sempat muncul di media massa resmi.

Akibatnya, petinggi gereja Katolik yang membawahi yayasan sosial merasa perlu untuk mengeluarkan penjelasan resmi, seperti juga yang dilakukan berbagai instansi lain yang dirugikan oleh berita hoaks dan ujaran kebencian.

Gencar Sosialisasi Menanggapi gencarnya berita hoaks, Dewan Pers gencar melakukan sosialisasi dan literasi yang bertujuan membuat masyarakat “melek media” dan paham cara mengonsumsi media dengan benar, termasuk memberikan ciri-ciri mengenai berita hoaks.

Langkah lain adalah mengusulkan adanya akreditasi bagi media massa dan imbauan bagi insan pers untuk bekerja secara profesional.

Di tengah dunia informasi yang serba terbuka seperti ini, siapa yang bisa mencegah arus deras berita-berita palsu? Apakah undang-undang dan regulasi bisa efektif, atau lebih perlu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi informasi dengan cerdas.

Dalam dunia yang serba terbuka, Indonesia tidak bisa hanya melihat wilayah hukumnya sendiri, karena pemakai sarana komunukasi sudah terhubung sebagai warga dunia tanpa batas geografis, bangsa, dan negara.

Di belahan dunia yang lain malahan ada situs-situs yang dengan sengaja meluncurkan berita palsu untuk lucu-lucuan dan sindir-sindiran, misalnya TheOnion.com, tought.co, TheDailyShow.com , colbertNation.com, WeeklyWorldNews.com.

The Onion

The Onion yang mempunyai slogan sebagai Sumber Berita Terbaik di Amerika (America’s Finest News Source), banyak dibaca oleh jutaan warga AS sejak tahun 1996 dan digemari karena berita-beritanya berupa sindiran, satire terkait dengan berita-berita aktual.

Tampilan situs ini bisa mengecoh pembaca yang belum “melek media” untuk menelan mentah-mentah informasi yang disuguhkan.

Salah satu dari video yang disiarkan dan viral di Twitter memunculkan gambar kubis (cabagge) dengan teks “Tahukah Anda, satu kata dalam bahasa Inggris yang mencakup semua huruf dalam alphabet adalah ‘Kubis'”.

Unggahan tersebut mendapat tanggapan yang juga lucu-lucu dari para pembaca yang sudah sangat sadar akan berita benar, berita palsu, dan berita lucu-lucuan.

Ada berjuta-juta berita palsu yang beredar saat ini, baik yang untuk lucu-lucuan, iseng, menjelek-jelekan pihak lain, menyerang secara ekonomi, politik, agama, dan golongan.

Peran perempuan Kaum perempuan sebagai kelompok warga yang dilihat lebih mudah termakan isu dan menyebarkannya, kini mendapat tantangan untuk menghadapi dunia baru dalam berkomuniukasi yang menggabungkan teknologi audio-visual, komunikasi, psikologi, sampai perang dagang.

Terdapat lompatan tinggi antara para perempuan kota yang sudah “melek media” dan perempuan di perdesaan yang masih bergosip sambil mencari kutu, tetapi sekaligus sudah menggenggam alat komunukasi yang terbuka secara internasional.

“Jika pagi-pagi saya membuka WA dan media sosial terlebih dulu, saya akan terprovokasi berita-berita yang masih diragukan kebenarannya, sehingga saya memilih untuk membuka situs resmi dulu sebelum media sosial,” ujar Patricia Coverdale, seorang mantan manager bisnis pendidikan di Inggris yang kini menetap sementara di Sumba, NTT.

Foto dan video belum menjamin kebenaran suatu informasi, termasuk pencatutan nama lembaga dan perusahaan terkenal, bahkan pengunggah berita palsu kadang juga menciptakan nama-nama lembaga yang “keren” untuk mengelabui audiens.

Bila suatu lembaga riset medis dari negara besar melaporkan hasil riset “yang ternyata palsu”, pembaca akan lebih percaya terhadap informasi tersebut, misalnya ketika sebuah perusahaan BUMN disebutkan membuka lowongan kerja, lengkap dengan alamat email (palsu), orang akan berbondong-bondong mengirim surat lamaran.

Banyak konsumen juga langsung percaya mengenai isu makanan palsu/plastik tanpa memperhatikan bahwa video yang ditontonnya adalah demo pembuatan model makanan untuk para wisatawan, atau isu perempuan melahirkan anak berbentuk gajah dengan foto hasil rekayasa fotografi.

Literasi media bagi para perempuan, khususnya yang masih berlatar pendidikan rendah, merupakan pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan, karena perempuan merupakan ibu yang lebih banyak mendidik putra-putri, baik melalaui perilaku, nasihat, maupun keputusan-keputusan penting dalam tumbuh kembang anak. [Antara]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close