HEADLINESLifestyleTraveling

Yang Tersisa di Osaka

BTN iklan

(LEI) – Hari ini rombongan meninggalkan kota Tokyo menuju kota Osaka dengan bus pariwisata untuk mampir ke beberapa obyek wisata utamanya, yaitu gunung Fujiyama. Tapi kami tidak beruntung karena ramalan cuaca semalam memberitahu bahwa akan turun hujan salju, hingga menyentuh suhu 1 derajat Celsius.

Gunung Fujiyama masih diselimuti salju, untuk mencegah bahaya maka para turis dialihkan ke tempat wisata lain – Maret 2017 (LU-LEI)
Rombongan APPTHI pun juga tidak bisa menikmati keindahan Gunung Fuji (LU-LEI)

Perjalanan kemudian dialihkan ke danau Kawaguchi yang sebetulnya danau yang tidak terlalu luas, karena kondisi bersalju terpaksa kami mengambil gambar seadanya sebelum melanjutkan perjalanan ke pusat pertokoan Gotemba.

Dimana-mana masih tertutup salju (LU-LEI)

Yang perlu ditiru adalah mengatur agar perjalanan nyaman dengan tempat yang bersih serta toilet yang modern walau minimalis dengan air hangat. Menjadikan kebersihan sebagai etos, disana budaya masyarakat Jepang menjadi kunci. Sampah sekecil apapun merupakan urusan masing-masing pribadi, ya, kami mengantongi sampah milik sendiri hingga sampai hotel untuk dibuang ke tong sampah karena petugas hotel yang akan memisahkan dan mengirim ke proses terakhir.

Untuk mencapai Osaka bisa ditempuh dengan kereta cepat Shinkansen, pembelian tiket bisa secara online atau secara langsung di Tokyo Station. Cukup mudah dengan 14.500 ¥ (1 Yen sekitar Rp 120) untuk kelas ekonomi Tokyo-Osaka yang ditempuh dalam waktu 2,5 jam dengan 2 kali berhenti di Yokohama dan Kyoto.

Taman Osaka yang dipadati remaja bercengkrama (LU-LEI)

Keteraturan, ketertiban, dan kebersihan sudah menjadi budaya. Dan satu yang terlupakan, “membungkukan kepala” sebagai tanda hormat merupakan budaya di semua lini dan strata tanpa peduli apapun latar belakangnya, mulai dari Perdana Menteri Jepang hingga ketika melihat band The Rifle yang setelah membawakan lagu-lagu The Beatles kemudian membungkukan badannya bersama-sama sebagai tanda rasa hormat dan respect, demikian dengan penontonnya yang sehabis berjingkrak turut meresponnya sambil mengucapkan “Hai Hai” yang bisa diartikan “terima kasih telah menghibur.

Negara Jepang dibangun dari reruntuhan Perang Dunia ke dua, dengan pesat melampaui negara-negara yang dahulu menciderai. Ini semua berkat etos kerja yang ulet dengan tetap menjunjung tinggi budayanya.

Sepanjang perjalan pulang saya menikmati film The Last Samurai yang dibintangi oleh Tom Cruise, terlihat bagaimana sutradaranya sangat detail dalam mengungkapkan budaya Jepang, bagaimana saat Kaisar belajar dari negara Barat agar Jepang tak teringgal, bagaimana pertentangan dengan budaya yang membuat tertarik untuk mendalami budaya Jepang.

Osaka (LU-LEI)

 

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

14 Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami