Buku

Yap Thiam Hien Sang Pendekar Keadilan

BTN iklan

FREIBURG, (LEI) – Sosok Yap ada di dua dekade, di era  Pemerintahan Soekarno dan Soeharto. Konsisten dan komitmen untuk menegakkan hukum. Buku saku terbitan Tempo ini menyajikan serta menelusur Yap muda sejak dari Aceh, sempat berpindah ke Cirebon dan kemudian ke Lasem karena butuh uang untuk menghidupi adik-adiknya.

Hingga akhirnya dia mendapatkan beassiwa di Universitas Leiden Belanda. Motto Yap adalah kuliah hukum dan kerja untuk untuk gereja (hal. 31). Sekembalinya dari Belanda, dia bergabung dengan organisasi BAPERKI dan tersingkir di jalan lurus saat Konggres BAPERKI di Semarang, dia menentang BAPERKI yang setuju dengan Soekarno yang berpandangan NASAKOM (hal. 43).

Menjadi Lone Ranger penentang UUD 45, Yap banyak dikecewakan Soekarno dalam sejumlah keputusan, terutama masalah konstitusi dan politik. Ia adalah seorang minoritas 3 lapis (Keturunan Cina, Kristen, dan Jujur). Ia buktikan bahwa keadilan bisa diraih meski harus menunggu 50 tahun.

Namaku identitasku

Kebijakan asimiliasi dan ganti nama dianggap melanggar hak pribadi. Tidak menyelesaikan masalah diskriminasi rasila (hal. 61). “Identitas tidak mungkin dihapus, tujuan asimilasi tak akan tercapai bila dipaksakan. Jika bangsa ini ingin menghilangkan sekat perbedaan, yang diperlukan adalah pembersihan hati”, kata Yap.

Pada era Soeharto mengambil alih kekuasaan, banyak tokoh BAPERKI yang ditahan kecuali Yap. Kemudian dia menghadap ke Amir Machmud, “Mengapa saya tidak ditahan?”. Alasannya adalah dia beragama. Pada tahun 1974 terjadi peristiwa Malari bersama dengan tokoh-tokoh malari waktu itu, Hatiman Siregar dari UI merasakan dinginnya tahanan rezim Soeharto (hal. 70).

Penjada marwah advokat selalu mengaum, membela untuk kebenaran, bukan kemenangan yang diburu tetapi keadilan sebagai profesi advokat. Yap adalah pendiri LBH bersama Adnan muda dan Todung Mulya Lubis dkk.

Sampai akhir hayatnya Yap tetap terobsesi untuk menegakkan keadilan di muka pengadilan. Buku Yap oleh Tempo ini sangat inspiratif bagi pembela keadilan dan penegakkan hukum di Indonesia. Layak dibaca dan perlu!

Resensi oleh Dr. St Laksanto Utomo, 31 Desember 2017 [LU_LEI]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close