EntertainmentLifestyle

Yayoi Kusama, Berseni dari Halusinasi

BTN iklan

Jakarta (LEI) – Yayoi Kusama, salah satu seniman ternama dunia yang masih hidup dan sejumlah karyanya segera dipamerkan di Museum MACAN, Jakarta, telah menekuni karier selama hampir 70 tahun.

Lukisan dan patung penuh warna, instalasi labu polkadot, sampai Infinity Mirrored Rooms ciptaannya yang sampai dibanggakan Katy Perry dan Adele, tidak begitu saja menjadi karya seni bergengsi di budaya pop global. Yayoi mengawali torehan seninya lewat nihonga.

Menurut Asisten Kurator Museum MACAN Asri Winata, Yayoi mempelajari nihonga (seni lukis khas Jepang) di Kyoto Municipal School of Arts and Crafts pada akhir 1940-an.

Namun ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang konservatif.

Ambisinya untuk menjadi seniman tidak mendapat dukungan. Apalagi saat itu Jepang sedang dalam masa pemulihan dari kekalahan tragis pada Perang Dunia II dan bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945.

“Lingkungan rumah dan masyarakat Jepang yang tertekan, berdampak kuat bagi psikis Kusama yang rapuh. Sejak kecil, Kusama telah mengalami halusinasi secara rutin, berbentuk aura di seputar objek atau tanaman dan binatang yang berbicara,” tutur Asri menjelaskan.

Dalam halusinasinya itulah pikiran Yayoi kerap dipenuhi polkadot, yang kemudian menjadi obsesinya dalam berkarya yang diawali di studionya di Matsumoto, Jepang.

“Dengan merekam halusinasinya lewat gambar, berkesenian menjadi cara bagi Kusama untuk mengatasi kondisinya,” kata Asri melanjutkan.

Meski Kusama selalu menolak dikategorikan dalam sebuah aliran seni rupa tertentu, Asri mengungkapkan bahwa Yayoi pernah menyatakan ketertarikan pada seniman yang bereksplorasi dengan kecenderungan mistis, seperti artis asal Amerika, Georgia O’Keefe.

Pada 1955, seniman bergaya nyentrik itu mengirim surat kepada O’Keefe disertai beberapa contoh karyanya. Betapa terkejut Yayoi saat ia mendapat respons positif. Momen itu lantas mendorong Yayoi untuk pergi ke AS, yang kala itu dianggap sebagai pusat seni rupa dunia.

Perpindahan Yayoi ke AS membuat karya-karyanya sejak akhir 1950-an khas dengan motif Infinity Nets atau jaring tak terhingga. Jaring-jaring tersebut bermula sebagai lukisan kecil di atas kertas yang merujuk pada pengalaman sang seniman, seperti memandangi ombak Samudera Pasifik dari jendela pesawat dalam perjalanan dari Jepang ke AS pada 1957.

Seri itu kemudian berkembang setelah Kusama tiba di New York.

“Perspektif, gaya yang tak beraturan, serta ketiadaan titik fokus mengabaikan struktur lukisan dan aturan komposisi,” kata Asri soal gaya baru yang ditekuni Yayoi kala itu.

Seri motif jaring Yayoi langsung mendapat perhatian kritikus di pameran tunggalnya di Brata Gallery, New York. Pameran itu menampilkan lima lukisan putih di atas hitam, yang salah satunya terbentang memenuhi bidang dinding. Lukisan itu akan ada di Museum MACAN.

Pendekatan tersebut kemudian melahirkan arah baru yang berbeda dari ekspresionisme abstrak serta mengantisipasi perkembangan aliran pop, minimalisme dan seni rupa konkret.

Selama perantauannya, Yayoi juga memunculkan kontroversi saat tampil di Venice Biennale pada 1965. Yayoi tidak diundang secara resmi saat itu. Namun ia bersikukuh memajang sebuah instalasi di Venice, bertajuk Narcissus Garden. Instalasi itu juga dipamerkan di MACAN.

“Instalasi itu terdiri dari 1.500 bola stainless steel yang menjadi bentuk penentangannya terhadap dunia seni yang semakin dikomersialisasi. Menggunakan kimono emas, Kusama menjual bola-bola itu seharga US$2, yang dilakukan sebagai sebuah sindiran,” terang Asri.

Ada filosofi lain dari karya itu. Setiap berdiri di depan karyanya orang hanya akan melihat wujudnya sendiri, sementara yang lain akan terlihat seperti terdistorsi.

“Itu dia [Yayoi] membicarakan ego orang-orang terhadap lingkungan sekitar,” imbuh Asri.

Setelah tinggal selama 16 tahun di AS, Yayoi memutuskan kembali ke Jepang pada 1973.

Ia menemukan kampung halamannya telah mengalami perubahan besar. Setelah reformasi ekonomi domestik dan industrialisasi pada 1960-an, Jepang berkembang jadi kekuatan ekonomi penting.

“Meski pertumbuhan pesat ini sungguh menggembirakan, Kusama menemukan tanggapan kritis terhadap karya-karyanya terasa tidak dipedulikan, hanya terbatas pada komentar dangkal atas objek kajiannya yang bersifat psikologis dan sifatnya yang eksentrik,” kata Asri.

Pada 1977, Yayoi pindah secara permanen ke sebuah rumah sakit jiwa di Tokyo dan membangun studio di seberang jalannya. Dalam kurun waktu tersebut, motif-motifnya pada masa awal berkarya, termasuk polkadot, bunga dan labu muncul kembali, seiring beberapa perubahan pada karyanya.

Lukisan dan instalasinya berkembang. Skalanya jadi lebih besar. Karya-karyanya jadi seakan mengelilingi penikmatnya. Ia juga kembali menciptakan patung berukuran besar, serta bereksperimen dengan berbagai materi dan teknik termasuk kolase dan seni grafis.

Selain karya seni rupa, Yayoi pun disebut memulai penjelajahan sastrawi, yang menghasilkan puisi, prosa bahkan novel dalam jumlah besar.

Periode ini berlangsung hingga pada awal 2000-an Yayoi mulai menyertakan simbol-simbol kekanak-kanakan dalam karyanya. Seperti ada mata di mana-mana, bulu mata mencolok, polkadot, profil wajah, tumbuhan bersebelahan dengan garis, serta pola organik.

Figur yang menyerupai gambar anak-anak ini menjadi titik kala Yayoi mengingat apa yang ia lakukan saat masa muda. Refleksi itu ia hadirkan dalam karya Love Forever (2004-2007).

Beranjak dari masa itu, Yayoi menggabungkan berbagai bentuk figuratif dan abstrak dengan hal yang lebih berwarna. Menurut pemaparan Asri, karyanya itu menjadi serangkaian citra yang dikembangkan dalam seri Love Forever dan diwujudkan dalam tajuk My Eternal Soul.

“Untuk mencipatakan lukisan-lukisan ini, sang seniman meletakkan kanvas di atas meja dan bekerja dalam posisi duduk, untuk kemudian secara bertahap memenuhi kanvas dari segala penjuru,” papar Asri. Ia menambahkan, “My Eternal Soul menyiratkan warna dan kedinamisan, serta seringkali menggunakan kontras dalam menciptakan ilusi optik yang menggelora.”

Karya bertajuk My Eternal Soul itulah yang dikerjakan Yayoi sejak 2009 dan masih berlangsung hingga kini.

Sejumlah mahakarya milik seniman asal Jepang yang identik dengan rambut palsu warna cerah itu dipamerkan di Museum MACAN Jakarta mulai 12 Mei hingga 9 September 2018. [cnn indonesia]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 1 =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami